5. KEHENDAK SENDIRI

Yudas berkhianat atas keinginannya sendiri, bukan karena keinginan orang lain apalagi keinginan Tuhan. Kejahatan Yudas sebenarnya dimulai dari kebiasaannya suka mencuri uang kas yang dipercayakan kepadanya. Alkitab menulis bahwa, ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:6). Dalam hal ini kita harus mengerti, bahwa seseorang tidak mungkin jadi orang jujur mendadak atau menjadi pencuri mendadak. Kebiasaan Yudas mencuri dan mengingini uang untuk kepentingannya sendiri inilah yang membuka peluang Iblis masuk dalam kehidupannya. Iblis akan masuk dalam kehidupan seseorang kalau seseorang memberikan peluang atau pangkalan (Ef. 4:27). Hal ini meneguhkan bahwa Yudas memilih nasib atau keadaannya sebagai pengkhianat. Walau hal ini tidak direncanakan oleh Yudas sendiri sebelumnya, tetapi kebiasaan jahatnya menggiringnya kepada keputusan yang salah tersebut.

Terdapat beberapa teks dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Yudas dimasuki oleh Iblis (Luk. 22:3; Yoh. 13:27). Tidak mungkin Iblis diizinkan oleh Tuhan masuk dalam diri Yudas tanpa alasan sebelumnya. Memang Yudas sudah terbiasa “bermain-main” dengan Iblis melalui ketidakjujurannya (Yoh. 12:6; 13:2). Langkah-langkah panjang Yudas inilah yang membawa Yudas kepada keputusan tragisnya, yaitu menjual Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala (Mat. 26:14; Mrk. 14:10; Luk. 22:4).

Yudas seperti murid-murid yang lain, selalu mendengar pengajaran Tuhan. Di dalamnya termasuk nasihat, peringatan, larangan, dan lain sebagainya. Apakah semua itu diberikan kepada Yudas sebagai sandiwara? Apakah Tuhan menasihati Yudas, tetapi sementara itu juga Yudas dikeraskan hatinya dan tidak akan bisa menjadi umat pilihan? Tentu tidak. Yudas memang selalu mendengar pengajaran Tuhan Yesus, tetapi hatinya sudah tertambat ke uang. Mata hatinya telah dibutakan oleh hasratnya terhadap keinginan materi. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Lukas 16:11: Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Kalimat harta yang sesungguhnya dalam bahasa aslinya adalah ἀληθινὸν (alethinon) yang artinya kebenaran (Ing. Truth). Jadi, walau Yudas banyak mendengar pengajaran Yesus, tetapi karena hatinya terikat uang, maka ia tidak dapat mengerti Firman Tuhan.

Jadi, kalau seseorang sudah tidak benar soal harta (hati melekat kepada kekayaan), maka ia tidak akan dapat mengerti Firman Tuhan walaupun diajar setiap hari (Luk. 16:11). Jadi, kebutaan mata rohani Yudas bukan karena hatinya dikeraskan oleh Tuhan, tetapi karena ia memilih mencintai harta atau cinta uang. Yudas sendiri yang mengeraskan hatinya. Inilah yang dikatakan Paulus, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

Roma 1:16-17 menyatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Injil kekuatan Allah yang menyelamatkan, tetapi kenyataannya tidak sedikit yang mendengar Injil tetapi tidak selamat, termasuk Yudas. Apakah dalam hal ini kuasa Injil patut diragukan? Tentu tidak. Manusia yang mendengar Injil berperan untuk menerima dan mengalami keselamatan yang Tuhan sediakan. Dalam Yesaya 55:11, dinyatakan: .. demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. Dari pernyataan teks ini disuratkan dengan jelas bahwa Firman Tuhan yang disampaikan Tuhan tidak akan sia-sia, artinya tidak pernah gagal. Tetapi pada kenyataannya, banyak orang yang mendengar Firman Tuhan, baik umat Perjanjian Lama maupun zaman anugerah, namun mereka tetap menolak dan akhirnya tidak mengalami keselamatan. Mengapa ini bisa terjadi? Kuasa Firman tidak diragukan lagi, sangat luar biasa. Tetapi kembali kepada manusianya, apakah menerima Firman tersebut dengan benar atau tidak. Sebab kalau dengan kehendaknya sendiri ia menolak Firman tersebut, maka kuasa Firman yang tidak dialami.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.