5. KEBERADAAN ALLAH

Salah satu penyebab keyakinan bahwa tidak ada neraka sebagai penjara abadi adalah karena mereka berpikir bahwa Tuhan tidak ada atau tidak terbukti ada, sampai akhirnya mereka juga berpikir bahwa Tuhan tidak perlu ada. Dewasa ini semakin banyak pemikir-pemikir dan kaum intelektual yang menganut faham nihilistis. Faham ini menyatakan bahwa dewa-dewa dan allah tidak ada atau tidak perlu ada. Bagi mereka, segala sesuatu yang tidak bisa diverifikasi atau dibuktikan secara sains adalah nonsen. Keberadaan Allah dianggap irrasional, karenanya tidak perlu dipercaya sebagai realitas atau Pribadi yang eksis. Seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan ateis, baik ateis teoritis maupun ateis praktis, menganggap bahwa percaya terhadap eksistensi Allah adalah kebodohan.

Mereka adalah kelompok pengejek-pengejek yang melecehkan Tuhan dan menentang keberadaan Tuhan secara frontal. Bila Tuhan dianggap tidak ada (nihil), maka besar kecenderungan para penganut filosofi ini juga tidak memercayai realitas neraka. Hal ini menumbuhkan kehidupan yang fasik, artinya sikap yang tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum serta perasaan Allah. Pemazmur menyinggung mengenai orang-orang nihilistis yang sama dengan orang-orang ateis atau tidak percaya keberadaan Allah sebagai orang yang kelakuannya bejat dalam Mazmur 14:1; 53:2.

Keadaan dunia yang fasik ini memiliki pengaruh atau sangat berdampak terhadap kehidupan orang Kristen. Oleh sebab itu kita harus benar-benar waspada. Salah satau bukti nyata adalah banyak orang Kristen yang tidak lagi mempersoalkan dan tidak memedulikan realitas neraka. Memang inilah kenyataan hidup dunia modern, betapa sukarnya memercayai bahwa Allah itu ada dan hidup. Hal ini disebabkan karena manusia telah hanyut dengan filosofi nihilisme ini; Allah dianggap tidak ada atau tidak perlu ada. Menurut filosofi manusia hari ini pada umumnya bahwa manusia merasa dapat hidup tanpa Tuhan.

Sebagai orang percaya kita harus mewujudkan iman dalam seluruh perbuatan secara konkret. Dengan demikian kita dapat memperlakukan Allah secara terhormat sebagai Pribadi yang hidup yang memiliki perasaan. Orang-orang yang tidak hidup di dalam kehendak Allah, tidak akan tahan berdiri di hadapan Tuhan. Mereka akan gemetar ketakutan dan pasti dibuang ke dalam api kekal; penjara abadinya. Hari ini banyak orang tidak memedulikan Allah. Dari mulut bisa saja mengaku percaya adanya Tuhan, tetapi dalam hidup dan kelakuannya sehari-hari ia tidak hidup sesuai dengan kehendak-Nya, seakan-akan Tuhan tidak ada. Di dalamnya termasuk banyak orang Kristen.

Kefasikan dunia makin memperkuat pemikiran bahwa Allah itu tidak ada dan tidak perlu ada. Kalaupun ada, tapi tidak perlu memiliki relasional dengan manusia (2Ptr. 3:3-5, Mzm. 14:1-3). Itulah sebabnya Paulus mengingatkan bahwa hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:15-17). Pengaruh ini memengaruhi dan mewarnai jiwa sejumlah besar orang Kristen. Sebagai buktinya, banyak orang Kristen yang hanya ber-Tuhan pada hari Minggu, tetapi di luar hari kebaktian Minggu mereka hidup kembali seperti anak-anak dunia yang tidak ber-Tuhan.

Alkitab menulis dengan jelas peristiwa-peristiwa yang bertalian dengan Allah. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Allah ada. Mengapa demikian? sebab para penulisnya telah mengalami dan sungguh-sungguh telah membuktikan bahwa Allah benar-benar nyata, ada dan menyatakan kehadiran-Nya. Dalam Alkitab dapat ditemukan kesaksian pribadi-pribadi yang luar biasa yang telah berjalan dengan Tuhan. Itulah hidup yang dikehendaki oleh Penciptanya yaitu kehidupan yang tidak terpisah dari Allah.

Allah adalah keberadaan yang abadi, tidak ada asal muasalnya. Orang yang memercayai keberadaan Allah dan sungguh-sungguh bergumul pasti mengisi hari hidupnya untuk menemukan-Nya. Orang seperti ini akan memiliki kesaksian dalam hidupnya bahwa Allah ada, nyata dan mereka mengalami riil. Pengalaman dengan Tuhan akan membuat seseorang takut akan Dia dan menghormati-Nya secara patut. Tentu saja mereka akan menjadi pribadi yang layak masuk dalam rumah Bapa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.