5. Kawasan Beragama

MAKSUD INJIL DITULIS bagi orang-orang Yahudi adalah agar mereka keluar dari cara hidup keberagamaan Yahudi dan mengenakan gaya hidup yang telah dikenakan oleh Tuhan Yesus. Bagi orang non-Yahudi Injil bermaksud untuk menarik mereka keluar dari hidup kekafiran yang mereka kenakan selama ini, kemudian mengenakan hidup baru yang dikehendaki oleh Tuhan. Kehidupan yang telah keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib adalah kehidupan yang tidak dimengerti sebelum seseorang benar-benar mengalaminya.1 Berkenaan dengan hal ini dibutuhkan ketekunan yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, yaitu “tetap di dalam Firman”.2 Tetap di dalam Firman artinya bertekun belajar kebenaran Firman Tuhan sampai semua unsur kekafiran dalam pikirannya digantikan dengan kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Bila proses ini berlangsung dengan baik, maka orang percaya mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan ini membuat seseorang lebih dari sekadar beragama, tetapi sungguh-sungguh menjadi (berkeadaan sebagai) anak-anak Allah.

Tuhan Yesus belum bisa menjelaskan kepada para murid, kehidupan macam bagaimana yang seharusnya sebagai pengikut-Nya. Tuhan Yesus berkata: Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.3 Kata menanggung dalam teks slinya adalah bastazo (βαστάζω) yang juga bisa berarti memahami atau mengerti untuk dikenakan. Seperti ketika Tuhan Yesus mencuci kaki murid-murid-Nya, Ia berkata bahwa mereka tidak mengerti yang dilakukan oleh Tuhan,4 tetapi suatu hari nanti mereka mengerti. Semua penjelasan ini hendak menunjukkan bahwa ada kawasan rohani yang sangat tinggi dan mulia yang tidak mudah dimengerti oleh mereka yang belum dewasa. Kedewasaan rohani dan pengertian terhadap kebenaran memang bertumbuh bertahap secara ketat. Dalam hal ini bisa dimengerti betapa sabarnya Tuhan Yesus menghadapi kebodohan murid-murid-Nya. Selama beberapa tahun mereka bersama-sama dengan Tuhan, tetapi mereka masih belum mengerti maksud tujuan kedatangan Tuhan Yesus. Pikiran mereka masih duniawi dan mengharapkan kenyamanan duniawi.

Selama itu murid-murid merasa belum memiliki standar hidup yang wajar, karena mereka masih hidup sebagai bangsa yang tertindas oleh kekuasaan Romawi. Mereka berharap Tuhan Yesus dapat membebaskan mereka dari keadaan tersebut. Dalam hal ini standar hidup mereka bukanlah standar hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Ketika Tuhan berkata agar orang percaya mendahulukan Kerajaan Allah, Tuhan menunjukkan bahwa mereka belum memiliki standar hidup keluarga Kerajaan Allah. Di sini terjadi conflick of interest (konflik kepentingan). Selama pikiran murid-murid masih terikat dengan pola berpikirnya yang salah, maka mereka tidak pernah mengerti kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam Injil. Level kekristenan mereka masih di kawasan keberagamaan yang belum memampukan mereka menjadi terang atau saksi bagi dunia.

Selama bertahun-tahun banyak orang Kristen bahkan pembicara Kristen hidup dalam kebodohan karena mereka tidak mengerti isi Injil yang dimaksud oleh Tuhan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak bersikap benar terhadap Injil dan tidak berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mengerti kebenaran Injil. Bagi mereka, kekristenan dan belajar Injil adalah bagian hidup yang tidak mutlak harus dipenuhi. Mereka hanya mewarisi secara buta apa yang diberikan oleh orang Kristen pendahulunya. Sementara dunia semakin rusak dimana dibutuhkan kebenaran yang kuat, mereka belum menemukan Injil yang orisinal yang diajarkan Tuhan Yesus. Pengertian terhadap Injil yang tidak bertumbuh, tidak dapat melengkapi kehidupan orang Kristen dalam menghadapi ancaman dunia yang semakin rusak. Hal ini mengakibatkan banyak orang kristen berkeadaan seperti murid-murid sebelum dipenuhi Roh Kudus.

1) 1Petrus 2:9 ; 2) Yohanes 8:31-32 ; 3) Yohanes 16:12 ; 4) Yohanes 17:7

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.