5 Desember 2014: Sikap Berjaga Yang Benar

Tuhan jarang sekali memberitahu kapan seseorang dipanggil-Nya pulang. Hal ini paralel dengan fakta tidak seorang pun yang tahu hari kedatangan Tuhan untuk menyudahi sejarah dunia ini; yang banyak orang kenal sebagai hari kiamat (Mat. 24:36; Kis.1:7). Kalau manusia tahu hari kematiannya atau hari kedatangan Tuhan maka akan berjaga-jaga secara tidak benar. Berjaga-jaga hanya karena diancam kematian atau berjaga-jaga dengan sikap hati ketakutan menghadapi kiamat adalah sikap berjaga-jaga yang salah. Ini sikap berjaga-jaga yang tidak natural atau tidak proporsional. Orang yang berjaga-jaga dengan versi ini, pasti tidak memiliki pertobatan yang benar. Pertobatan adalah perubahan pikiran, kalau bertobat hanya karena takut mau mati atau menghadapi kiamat dan yang bukan karena mengubah pikiran, maka ini berarti bukan suatu pertobatan yang benar. Pertobatannya yang hanya berhenti dari berbuat dosa tertentu khususnya pelanggaran moral umum, bukanlah pertobatan Kristiani yang dikehendaki oleh Allah. Pertobatan adalah perubahan pikiran ( Yun. metanoia). Ini berarti suatu proses panjang dalam perjalanan hidup. Jadi, pertobatan dalam bentuk langkah berhenti dari perbuatan yang melanggar norma umum tidak berakar pada pikiran yang diubah secara fundamental atau mendasar. Padahal yang dikehendaki oleh Tuhan adalah perubahan cara berpikir yang mendasar (Rm. 12:1-2). Pertobatan yang benar adalah pertobatan yang berlangsung terus menerus setiap hari sehingga seseorang dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Berhenti dari perbuatan yang melanggar noRma umum belum merupakan pembaharuan hati untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Sikap berjaga-jaga secara tidak benar tidak membangun cinta kepada Tuhan yang tulus. Cinta kepada Tuhan yang dibangun karena rasa takut mati atau takut menghadapi kiamat, bukanlah cinta yang sejati. Cinta kepada Tuhan harus dibangun di atas dasar pengenalan akan Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dapat dimiliki seseorang melalui pergumulan dan perjuangan panjang, baik melalui belajar kebenaran Alkitab dan pengalaman konkret hidup setiap hari. Cinta kepada Tuhan yang dibangun sesaat karena takut mati atau menghadapi hari kiamat adalah cinta palsu atau cinta yang dipaksakan. Tuhan tidak dapat menikmati cinta semacam ini. Orang yang mencintai atau mengasihi Tuhan dengan benar akan digarap Tuhan melalui segala peristiwa kehidupan yang di dengar, dilihat dan dialaminya. Dalam hal ini cinta kepada Tuhan merupakan syarat utama dan satu-satunya untuk menerima atau mengalami penggarapan Tuhan di dalam hidup ini untuk kedewasaannya. Sikap berjaga-jaga yang tidak benar tidak akan mendorong seseorang bertumbuh, sebab berjaga-jaga hanya karena mau mati atau menghadapi kiamat tidak mendorong seseorang bertumbuh dalam kedewasaan rohani untuk mencapai target tertentu. Sikap berjaga-jaga yang benar adalah langkah-langkah bertumbuh menjadi dewasa atau sempurna seperti Tuhan Yesus. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa setiap hari Tuhan menyediakan berkat rohani untuk menumbuhkan kedewasaan kita. Tuhan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Orang yang berpikir bahwa ia akan bertobat dan sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus di hari tuanya adalah orang-orang yang pasti tidak mengalami proses pendewasaan. Mereka membuang kesempatan-kesempatan berharga yang Tuhan sediakan untuk kedewasaan dan kesempurnaannya. Pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak bersedia diselamatkan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.