4 September 2014: Tidak Bersedia Menjadi Anak Tuhan

Dalam sepanjang perjalanan hidupnya, Paulus berusaha menjadi seorang yang berkenan kepada Tuhan (2Kor. 5:9-10). Berusaha untuk menjadi berkenan bukan bermaksud supaya selamat, sebab keselamatan manusia bukan karena perbuatan baik. Oleh karena telah menerima jalan keselamatan maka harus berusaha bukan hanya menjadi manusia yang baik bahkan untuk berkenan di hati Tuhan. Inilah resiko atau konsekuensi seorang yang menerima Tuhan Yesus sebagai Penebus. Kita ditebus oleh darah Tuhan Yesus supaya kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan semata-mata. Tidak lagi hidup seperti cara hidup nenek moyang atau orang tua kita yang tidak mengenal kebenaran (1Ptr. 1:18-19).

Kalau seseorang tidak menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya berarti ia tidak bersedia diselamatkan. Sebelum kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat kita merasa boleh berbuat apa saja yang kita ingini, tetapi setelah menjadi anak Tuhan, maka kita harus menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh memenuhi hidup ini dengan belajar mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Dengan membiasakan diri mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya maka seseorang akan memiliki karakter seperti Tuhan. Sampai pada level ini seseorang bisa berkategori berkenan kepada Tuhan.

Tidak ada hal yang lebih prinsip dalam hidup ini selain “berkenan kepada Allah”. Keagungan manusia sebagai citra Allah atau mahkota ciptaan Allah, adalah ketika manusia hidup berkenan di hadapan-Nya. Untuk menjadi seorang yang berkenan kepada Allah Bapa, seseorang harus mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Jadi, untuk mengerti kehendak Allah seseorang harus belajar terus mengenal pribadi Tuhan melalui Firman Tuhan. Selanjutnya selalu mempersoalkan apakah yang dilakukan sesuai dengan keinginan Allah Bapa; sesuai dengan selera-Nya atau tidak. Hal di atas ini harus dipraktikkan mulai dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam kehidupan ini. Hal-hal kecil yang selama ini tidak kita perhatikan, sekarang harus mulai kita periksa dengan teliti. Dengan serius kita harus mempersoalkan apakah sesuatu yang kita lakukan bukan saja tidak melanggar hukum, tidak melukai sesama tetapi apakah bisa menyenangkan hati Tuhan atau mendukakan-Nya. Hendaknya kita berprinsip, bahwa sebelum kita sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan kita tidak merasa tenang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.