4 Oktober 2014: Hanya Fantasi

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kemerdekaan itu? Masing-masing orang akan menjawab dengan jawaban yang didasarkan atas filosofinya yaitu apa yang dianggap sebagai bernilai tinggi dan dapat membahagiakan. Sesuatu yang dianggap bernilai tinggi dan yang dirasakan dapat membahagiakan itulah yang didamba. Mereka yang mendambakan kekayaan, maka kemerdekaan adalah terhindar dari kemiskinan. Mereka yang mendambakan kesehatan, maka kemerdekaan adalah memiliki kesehatan yang sempurna. Mereka yang mendambakan dapat hidup mandiri dan berdaulat tanpa dominasi orang lain atau suatu bangsa, maka kemerdekaan adalah memiliki kedaulatan atas diri atau wilayah negaranya dan lain sebagainya. Dalam sepanjang perjalanan hidup seseorang akan selalu memburu apa yang dipercaya dan dirasakan memberi kemerdekaan. Dengan demikian tidaklah keliru kalau dikatakan bahwa manusia hidup hanya untuk mencari kemerdekaan. Pada akhirnya sesuatu yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan tersebut yang akan membelenggunya. Dari belenggu kemiskinan ke belenggu kekayaan, dari belenggu sakit penyakit ke belenggu kesehatan, dari belenggu orang lain atau suatu bangsa ke belenggu diri sendiri atau bangsa sendiri. Apa yang dimaksud dengan kemerdekaan dalam Tuhan? Biasanya dijawab dengan jawaban yang mudah didengar yaitu dibebaskannya seseorang dari cengkeraman atau belenggu iblis. Kemudian, apa yang dimaksud dengan dibebaskan dari belenggu iblis itu? Biasanya dijawab dengan jawaban bahwa orang Kristen dijadikan anak-anak Allah, pasti masuk Surga, dilepaskan dari kutuk-kutuk seperti kutuk kemiskinan, kutuk sakit penyakit dan lain sebagainya. Kalau jujur dapat dilihat bahwa keadaan dibebaskan dari belenggu iblis dalam kehidupan banyak orang Kristen hanya sebuah keyakinan, aplikasi dan implementasinya tidak konkrit. Berangkat dari keyakinan tersebut dikembangkan pengertian bahwa orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sudah menjadi anak-anak Allah yang dihindarkan dari neraka dan diperkenan masuk Surga. Ditambah lagi sudah dibebaskan dari kutuk-kutuk sehingga bisa meyakini dapat sembuh bila mengalami suatu penyakit, meyakini dapat meraih atau mengklaim berkat Tuhan, mengklaim pasti masuk Surga dan lain sebagainya. Sayang semua itu hanya fantasi atau imaginasi saja. Faktanya tidak sedikit yang belum layak masuk surga, masih sakit dan hidup dalam kekurangan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.