4 November 2014: Dominasi Tokoh Agama

Banyak orang Kristen merasa telah menemukan Tuhan karena telah memiliki mediatornya, yaitu pendeta atau orang-orang yang menyebut diri sebagai hamba Tuhan. Seakan-akan melalui mereka umat dapat bersentuhan dengan Tuhan. Tokoh-tokoh ini mendoakan, menumpangkan tangan, bernubuat atas nama Tuhan dan berbagai tindakan yang mengesankan bahwa mereka adalah wakil Tuhan. Kalau hal ini dilakukan terhadap orang Kristen baru, sangat bisa dipahami dan ditolerir. Tetapi kalau orang Kristen yang sudah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun masih harus selalu didoakan seakan-akan mereka sendiri tidak bisa berinteraksi langsung dengan Tuhan, berarti suatu kesalahan atau penyesatan. Pola tersebut adalah pola umum keberagamaan yang ada pada banyak agama. Tanpa sang tokoh atau rohaniwan, umat tidak bisa berjumpa atau menemukan Tuhan. Dikesankan dengan kuat, bahwa tanpa sang tokoh agama Tuhan tidak bisa dihadirkan.

Dominasi tokoh agama atau rohaniwan tersebut adalah tindakan memperbodoh orang percaya. Inilah faktanya, banyak orang percaya merasa bahwa doa pendeta yang dianggap orang istimewanya Tuhan dapat membuat doa-doa umat lebih mudah atau lebih cepat dijawab dan dikabulkan, dapat membawa ke Surga dan dapat mewakili mereka dalam berurusan dengan Tuhan. Umat dipandang membutuhkan imam untuk bisa berurusan dengan Tuhan.Padahal Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa semua orang percaya adalah imamat-imamat yang rajani (1Ptr.. 2:9). Umat membutuhkan imam (manusia) hanya pada zaman Perjanjian Lama.

Kesalahan ini telah berlangsung ratusan bahkan lebih dari ribuan tahun. Gereja telah menjadi lembaga seperti agama yang dikuasai dan diperintah oleh rezim yang tidak membuat umat menjadi dewasa. Kondisi ini memberi potensi suburnya “politik agama”, yaitu dominasi rohaniwan atau tokoh agama terhadap umat. Kondisi ini sarat dengan praktik-praktik manipulasi dengan menggunakan nama Tuhan. Hal tersebut akan mudah terjadi munculnya keputusan-keputusan gereja (semacam fatwa) yang dilegalkan sebagai dari Tuhan untuk dituruti umat. Semua dinamika ini membuat umat tidak terpacu untuk berurusan dengan Tuhan secara pribadi. Cara berpikir yang salah ini harus diubah. Setiap orang percaya harus berjuang untuk menemukan Tuhan dan berinteraksi dengan Dia. Semua orang percaya memiliki hak yang sama untuk itu.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.