4. MUKJIZAT DALAM PERJANJIAN BARU

Bagi umat Perjanjian Baru, mukjizat dilakukan untuk maksud yang berbeda dengan pemberian mukjizat dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus mengadakan mukjizat sebagai tanda untuk membuktikan bahwa Diri-Nya berasal dari Allah. Jadi, mukjizat diadakan dengan maksud agar bangsa Israel pada zaman penggenapan bisa mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tanpa mukjizat, sulit bagi bangsa Israel memalingkan diri, membuka telinga untuk mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Yesus. Dalam hal ini, kita memperoleh pelajaran bahwa seseorang dapat berpaling untuk mendengar kebenaran Injil bukan karena hipnosis atau cara-cara yang supranatural, tetapi melalui proses natural, yaitu melihat mukjizat.

Percakapan antara Yesus dan Nikodemus dalam perjumpaan secara tertutup atau sembunyi-sembunyi menyingkapkan hal tersebut di atas. Dalam percakapannya dengan Tuhan Yesus, Nikodemus menyatakan: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” (Yoh. 3:2). Mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus memaksa seorang teolog Yahudi ini mengakui bahwa Yesus berasal dari Allah. Jadi, sangat mudah dipahami alasan mengapa Yesus mengadakan mukjizat. Jika Yesus tidak mengadakan mukjizat, masyarakat Yahudi pada waktu itu tidak akan mendengar dan memercayai pengajaran Yesus. Mereka hanya tahu bahwa Yesus adalah anak tukang kayu, manusia biasa seperti yang lain, saudara-saudara-Nya juga bersama-sama dengan Dia. Tanpa mukjizat tidak mungkin orang datang untuk mendengar apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Dengan mukjizat yang dilakukan Yesus, maka masyarakat Yahudi berbondong-bondong datang mendengarkan pengajaran-Nya. Segala sesuatu yang diajarkan-Nya itulah Injil, yaitu kebenaran yang dapat mengentaskan manusia dari belenggu kuasa dunia. Kebenaranlah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32) dan yang menguduskan (Yoh. 17:17). Dalam Roma 10:16-17, dikatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Dengan penjelasan ini, maka sangatlah jelas bahwa kebenaran Firman atau pengajaran Injil memiliki peran yang sangat penting dalam proses keselamatan. Banyak orang Kristen hanya memahami kuasa darah Yesus yang menyelamatkan, tetapi tidak memahami bagaimana proses keselamatan berlangsung. Proses keselamatan tidak akan berlangsung tanpa kebenaran Injil, karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17).

Dalam hal ini mukjizat merupakan petunjuk arah, yaitu mengarahkan umat Israel pada zaman itu untuk berpaling kepada Yesus guna mendengar kebenaran. Maka kita harus memahami bahwa kebenaran sangat berperan dalam pertumbuhan rohani jemaat Tuhan. Mukjizat hanya sebagai petunjuk untuk mengarahkan jemaat kepada Tuhan guna belajar kebenaran yang memerdekakan. Mukjizat bukan tujuan atau goal-nya. Jadi sangat keliru dan menyesatkan kalau mukjizat dijadikan sebagai tujuan atau goal dalam kehidupan orang percaya dan isi utama pelayanan gereja.

Ketika mukjizat menjadi tujuan, maka maksud tujuan keselamatan bisa meleset. Dalam hal tersebut, kesalahan pengertian mengenai mukjizat bisa sangat berpotensi membangun kegagalan terwujudnya keselamatan. Di aspek lain, kesalahan pengertian mengenai mukjizat berpotensi besar menimbulkan penyalahgunaan atau manipulasi pelayanan untuk kepentingan yang lain, bukan untuk berita keselamatan. Dalam hal ini, kesalahan tersebut menciptakan kondisi di mana mukjizat menjadi komoditas untuk keuntungan materi dan kebanggaan pribadi.

Dunia kita hari ini sungguh sudah sangat gelap, maksudnya bahwa kegelapan bukan hanya di lingkungan orang-orang kafir yang tidak mengenal Allah dengan perbuatan jahat mereka yang bertentangan dengan moral dan etika hukum, tetapi kegelapan juga terjadi dalam lingkungan gereja. Kegelapan ada di dalam lingkungan gereja ketika banyak kepalsuan diajarkan melalui mimbar-mimbarnya. Hal ini bisa terjadi tanpa disadari oleh jemaat yang mendengar dan tidak disadari pula oleh pemberitanya. Kepalsuan bukan saja diajarkan oleh mereka yang tidak mengenyam bangku Sekolah Tinggi Teologi, tetapi juga oleh mereka yang memiliki gelar dalam bidang teologi. Kepalsuan tersebut ditandai dengan perilaku yang tidak seperti Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.