4. Kerusakan Neshamah

FIRMAN TUHAN MENGATAKAN bahwa roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.1 Kata roh dalam ayat ini tidak menggunakan kata ruakh ( רוּחַ ), tetapi neshamah נשְָׁמהָ) ). Kata neshamah selain memiliki unsur kehidupan juga menunjukkan adanya unsur kesadaran. Inilah yang dihembuskan Allah pada waktu penciptaan manusia.2 Dengan neshamah ini, manusia bukan saja mampu bergerak melakukan aktivitas karena dorongan mempertahankan hidup seperti hewan tetapi juga bertindak dalam tatanan Tuhan. Neshamah inilah yang mestinya berfungsi sebagai pelita Tuhan. Pelita di sini maksudnya adalah sarana untuk memberi tuntunan agar manusia tidak salah melangkah. Jadi pengertian bahwa roh (neshamah) manusia pelita Tuhan adalah bahwa Tuhan memberi tuntunan secara berkesinambungan melalui roh atau neshamah manusia agar hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Kemampuan hidup sesuai dengan Tuhan atau dalam tatanan-Nya hanya ada pada manusia. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Binatang dengan segala kecerdasannya tidak memiliki komponen ini. Kejatuhan manusia ke dalam dosa sama dengan tindakan manusia merusak neshamah, sehingga tidak lagi dapat menjadi pelita Tuhan atau tidak dapat menjadi sarana Tuhan menuntun manusia hidup sesuai dengan Tuhan. Manusia yang berdosa tidak mampu hidup sesuai dengan Tuhan (sempurna). Dalam hal ini manusia kehilangan kemuliaan Allah.3 Manusia hanya mampu hidup sesuai dengan hukum yang diberikan Tuhan secara tidak sempurna.

Fakta sebenarnya kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan disebabkan oleh satu kali tindakan salah tetapi sebuah proses panjang dimana Adam secara terus menerus memilih yang bukan dari Allah sehingga nurani dalam neshamahnya menjadi rusak. Hal ini mengakibatkan manusia tidak mampu lagi mengerti dan melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Manusia tidak lagi bisa diperbaiki untuk segambar dengan Allah. Kemudian hari, setelah datang keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, manusia dapat dikembalikan kepada rancangan semula yaitu menjadi makhluk yang segambar dengan Allah sendiri. Jadi, keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula; menempatkan neshamah menjadi pelita Tuhan secara ideal sehingga segala sesuatu yang  dilakukan manusia sesuai dengan Tuhan secara sempurna.

Bagaimana neshamah manusia menjadi pelita Tuhan? Hal ini tidak dapat terjadi secara otomatis dan mistik. Diusahakan untuk terus menerus mengisi pikiran dengan kebenaran Injil. Pada dasarnya kebenaran Injil itu adalah pikiran Tuhan yang dapat membentuk cara berpikir Ilahi (pikiran perasaan Kristus).4 Kebenaran Injil yang dimengerti dengan pikiran saja hanya menjadi logos. Melalui pengalaman hidup setiap hari, Roh Kudus menterjemahkan logos menjadi rhema (Firman). Rhema adalah logos yang diterjemahkan secara konkrit melalui atau di dalam situasi konkrit. Seseorang tidak akan mengerti yang dimaksud dengan mengasihi musuh sebelum ia bertemu dengan orang yang memusuhinya. Orang tidak mengerti artinya percaya sebelum berinteraksi langsung dengan Tuhan. Rhema inilah yang menjadi makanan rohani.5 Jika secara terus menerus rhema diberikan maka membentuk atau membangun nurani dalam roh atau neshamahnya. Pada dasarnya nurani yang dipenuhi dengan kebenaran Firman menghasilkan kecerdasan roh. Kecerdasan roh ini sama dengan cara berpikir Tuhan. Kecerdasan roh inilah yang memberi kualitas pada neshamahnya. Neshamah yang terbentuk tersebut dapat menjadi pelita Tuhan untuk dapat menuntun seseorang agar dapat berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan dengan sempurna. Neshamah yang tidak baik – berhubung nuraninya rusak – tidak dapat menjadi pelita Tuhan.

1)Amsal 20:27; 2) Kejadian 2:7; 3) Roma 3:23; 4) Filipi 2:5-7; 5) Matius 4:4

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.