4. Bergantung Secara Benar

SETIAP KALI ADA BERITA kecelakaan pesawat terbang, seperti yang terjadi pada beberapa penerbangan, hal tersebut selalu menggetarkan hati. Kejadian seperti itu tidak pernah kita harapkan dan pikirkan terjadi dalam kehidupan kita. Setiap kali naik pesawat terbang kita tidak berpikir bahwa pesawat akan mengalami kecelakaan. Kita berharap segala sesuatu dapat berlangsung dengan baik. Itulah sebabnya di beberapa maskapai, di belakang jok tempat duduk pesawat, terdapat buku panduan berdoa demi keselamatan penerbangan dalam berbagai versi agama. Doa yang intinya agar terhindar dari malapetaka dan bahaya. Apakah doa tersebut pasti menyelamatkan? Ternyata tidak selalu. Kenyataannya, tidak sedikit pesawat terbang yang mengalamai kecelakaan walaupun doa sudah dinaikkan. Bahkan bisa juga terjadi kecelakaan atas pesawat yang membawa pendeta atau rohaniwan. Pendeta pun tidak dapat menghindarkan pesawat dari kecelakaan.

Pernahkah saudara berpikir bahwa mereka yang mengalami kecelakaan pesawat terbang juga tidak pernah berpikir dan berharap mengalami kecelakaan? Namun harus diingat bahwa segala sesuatu dapat terjadi di luar kontrol, kendali dan prediksi manusia. Kita adalah manusia yang terbatas dalam segala hal. Setinggi-tingginya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Demikianlah manusia tidak akan pernah bisa luput dari bencana, berbagai keadaan yang sulit dan akhirnya kematian. Kematian dapat digolongkan sebagai bencana, sebab Tuhan tidak merancang kematian pada manusia. Inilah realitas hidup yang tidak bisa disangkal dan dihindari. Menyadari hal ini seharusnya kita bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Orang-orang yang rendah hati selalu merasa miskin di hadapan Tuhan, yaitu merasa dirinya terbatas dalam segala hal. Miskin di hadapan Tuhan artinya selalu merasa sebagai makhluk terbatas dalam segala hal.1 Oleh karena merasa terbatas dalam segala hal, maka kita seharusnya sangat merasa memerlukan Tuhan dan bergantung kepada-Nya sepenuhnya.

Orang yang bergantung pada Tuhan secara benar pasti berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang hidup sembarangan, tidak memedulikan apakah tindakan-tindakannya melukai hati Tuhan atau tidak bukanlah orang yang bergantung secara benar pada Tuhan. Dalam hal ini hidup bergantung kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dengan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian orang yang bergantung kepada Tuhan terbimbing menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya dan diarahkan menuju Kerajaan Surga. Ketergantungan kepada Tuhan bukan hanya membawa dampak di kehidupan hari ini tetapi juga di kekekalan.

Orang yang hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah dan merasa berhak meminta dan memiliki perlindungan dari Tuhan adalah orang yang bersikap kurang ajar atau melecehkan Tuhan. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memandang Tuhan sekadar “pembantu” bukan “Majikan” yang harus dipatuhi. Mereka seperti seorang beruang yang menggaji “petugas keamanan atau hansip” untuk menjaga diri dan rumah mereka. Tuhan disamakan dengan hansip. Sering kali pihak gereja begitu mudah mendoakan orang tanpa mengajarkan kebenaran ini, sehingga mereka merasa sebagai orang yang berhak menerima perlindungan Tuhan tanpa hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Sesungguhnya mereka tidak layak menerima perlindungan dari Tuhan baik di bumi ini maupun di kekekalan. Mereka tidak mau tahu bahwa keadaanya belum sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tidak bisa bersikap rendah hati di hadapan Tuhan secara benar. Kalau mereka masih tetap mengeraskan hati, mereka dibiarkan merasa aman dan memang secara lahiriah aman. Ini berarti mereka tidak pernah mau mengoreksi diri. Ketika menutup mata mereka terbuang dari hadapan Tuhan untuk selamanya. Orang-orang congkak seperti ini pasti ditolak oleh Allah. Itu berarti bencana abadi. Betapa mengerikan.

1) Matius 5:3

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.