4. APAKAH KESUCIAN ITU?

Membahas mengenai kesempurnaan tidak dapat lepas dari hal kesucian. Apakah sebenarnya kesucian itu? Kesucian, dari akar kata suci, yang artinya dalam Bahasa Indonesia bisa bermacam-macam. Suci bisa berarti bersih, bebas dari dosa, tidak bersalah, tidak bernoda, tidak bercela dan murni. Sinonim dari suci adalah kudus. Memahami kesucian dari perspektif Kekristenan harus didasarkan pada apa yang dikemukakan Alkitab. Dalam bahasa Ibrani ada beberapa kata yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai suci atau kudus. Tetapi yang paling menonjol dan terkait dengan pembahasan kita adalah kata niqqayon (נִקָּיוֹן). Kata ini berarti tidak bersalah atau bebas dari hukuman dan bersih. Kata yang lain adalah qodesh (קֹדֶשׁ). Kata qodesh atau qados artinya dipisahkan dari yang lain untuk digunakan. Dalam bahasa Yunani kita menemukan dua kata yang diterjemahkan kudus atau suci dalam Bahasa Indonesia. Pertama adalah katharoi (καθαροὶ), dari akar kata katharos (καθαρός). Kata ini memiliki pengertian free from impure admixture, without blemish, spotless (bebas dari campuran, tidak bernoda). Kata yang berikut adalah hagios (ἅγιος). Kata ini berarti most holy thing, a saint (hal yang paling suci, orang kudus). Kata hagios ini dalam pengertian luasnya adalah keadaan yang berbeda dari yang lain.

Kata suci dalam pengertian agama berkenaan dengan keadaan seseorang adalah keadaan diri seseorang yang tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum dan tatanan agamanya. Dalam hal ini kesucian dikaitkan dengan melakukan hukum atau syariat. Berbeda dengan Kekristenan, kesucian menunjuk kepada keadaan di mana seseorang dapat bersekutu dengan Allah karena berkeadaan sesuai dengan kesucian Allah. Ini bukan hanya keadaan tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum, tetapi memiliki keadaan diri di mana seseorang bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah.

Kata “suci” dalam ayat ini menunjukkan keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia. Hati yang terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah tetapi kesucian batiniah. Bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang nampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14).

Berkenaan dengan hal ini, pengudusan ada dua macam. Pertama, pengudusan atau penyucian oleh darah Yesus. Ini adalah pengudusan atas semua kesalahan yang telah, sedang, dan bisa kita lakukan ke depan. Tuhan Yesus menjamin pengampunan atas semua dosa yang kita lakukan. Kedua, pengudusan oleh Firman (logos dan rhema). Ini isi doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:17. Pengudusan ini adalah pengudusan dalam karakter kita. Melalui Firman kita diubah terus dan dibentuk menjadi manusia Allah (man of God), sehingga mengalami perubahan dari kodrat manusia (human nature) dengan kodrat dosanya (sinful nature), menjadi seorang yang berkodrat Ilahi (divine nature) yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Pengudusan yang kedua ini merupakan proses penyempurnaan. Dalam proses pengudusan tersebut orang percaya bukan hanya dituntut tidak berbuat suatu kesalahan, bahkan seharusnya tidak bisa melakukan kesalahan lagi, sebab karakternya seperti Yesus yang juga tidak dapat berbuat dosa sama sekali. Firman Tuhan mengatakan: bahwa orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi (1Yoh. 3:9; 5:18). Banyak orang Kristen hanya mengenal pengudusan yang pertama, tetapi tidak memasuki proses pengudusan yang kedua. Pengudusan yang kedua ini sama dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.