4. AITIOS

ALLAH MEMANG MENCIPTAKAN manusia serupa dan segambar dengan diri-Nya, tetapi manusia pertama belum berkeadaan sempurna. Manusia pertama itu sendiri yang harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Allah menciptakan bahan dan memberi semua fasilitasnya, tetapi manusia yang harus mengembangkannya sebagai bentuk tanggung jawab. Itulah sebabnya mandat Allah kepada Adam adalah menaklukkan bumi. Yang dimaksud dengan “bumi” tentunya adalah semua yang kelihatan secara fisik maupun yang tidak kelihatan (metafisik). Yang kelihatan adalah materi dengan segala ilmu pengetahuan yang dapat digali tanpa batas, tetapi yang tidak kelihatan adalah kuasa kegelapan yang memberontak kepada Allah atau Lusifer. Kalau hanya mengelola alam semesta secara fisik, hal itu tidaklah bernilai tinggi. Tugas Adam yang kedua ini berat sekali, tetapi sangat agung. Kalau manusia berhasil menjadi manusia yang sempurna (corpus delicti) berarti Iblis dikalahkan. Sayang manusia pertama gagal. Manusia pertama tidak mencapai menjadi pribadi seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Puji Tuhan, Bapa masih memiliki Putra Tunggal-Nya yang bisa menjadi Adam terakhir untuk mengalahkan Iblis atau Lusifer yang jatuh.

Tuhan Yesus adalah manusia pertama yang berhasil mencapai kehidupan sebagai anak Allah yang ideal atau sempurna. Dialah model manusia yang diinginkan oleh Allah. Keberhasilan-Nya sebagai manusia seperti yang dikehendaki oleh Bapa, menempatkan diri-Nya sebagai pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya.1 Pokok keselamatan dalam teks aslinya adalah aitios (αἴτιος). Aitios bisa berarti author, he person who originated or gave existence to anything (seorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer). Dengan kemenangan-Nya, maka Tuhan Yesus dapat menggubah manusia berdosa menjadi anak-anak Allah. Tentu melalui proses dan pendidikan melalui Roh Kudus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar orang percaya yang sudah menjadi murid menjadikan semua bangsa murid-Nya. Ketika Tuhan Yesus berkata “muridkanlah” artinya ajaklah mereka belajar kepada-Ku. Tuhan Yesus sendiri telah belajar dan berhasil.2 Kata menderita dalam teks aslinya adalah pascho (πάσχω) yang juga berarti to suffer, to be acted on. Dalam hal ini, untuk mencapai kesempurnaan, Tuhan Yesus tidak menerimanya secara otomatis oleh anugerah, tetapi hasil dari perjuangan-Nya. Sejak muda Ia mengalami pertumbuhan natural seperti anak manusia lainnya (Ing. wisdom and stature, and in favour with God and man).3 Dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia.4 Itulah sebabnya Ia berkata bahwa sebagaimana Ia menang, Ia juga menghendaki orang percaya menang.

Seharusnya Adamlah yang menjadi aitios, tetapi Adam gagal. Maka Tuhan Yesuslah yang “memecahkan rekor”. Dengan keberhasilan-Nya, Ia menjadi yang sulung dari antara banyak saudara,5 artinya akan disusul oleh manusia-manusia yang mau mengikut dan taat kepada-Nya. Inilah inti kabar baik atau Injil, bahwa manusia diberi kesempatan atau kemungkinan dan fasilitas untuk menjadi manusia yang sempurna atau ideal seperti rancangan Allah semula. Dalam hal ini tugas Adam harus juga dilakukan oleh keturunannya. Seandainya manusia pertama tidak jatuh dalam dosa, seluruh keturunannya pun juga harus tetap belajar bagaimana menjadi anak-anak Allah yang sempurna atau ideal. Ini juga sama mengesahkan diri menjadi anak-anak Allah. Hal ini merupakan tanggung jawab setiap individu yang tidak pernah ditiadakan sampai kapan pun. Inilah yang dimaksud oleh surat Ibrani sebagai perlombaan yang diwajibkan.6 Semua orang percaya harus memiliki ketaatan kepada Bapa seperti Tuhan Yesus.7 Untuk hal ini orang percaya harus menanggalkan beban dan dosa. Beban adalah keterikatan dengan keindahan dan percintaan dunia ini, sedangkan dosa adalah keterikatan dengan segala keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dengan menanggalkan beban dan dosa tersebut barulah seseorang dapat berlomba, artinya bisa bertumbuh menjadi manusia Allah seperti Tuhan Yesus.

1) Ibrani 5:9 ; 2)Ibrani 5:8-9 ; 3) Lukas 2:52 ; 4) Ibrani 2:17 ; 5)Roma 8:28-29 ; 6) Ibrani 12:1 ; 7) Ibrani 12:2-5

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.