31. RHEMA DAN LOGOS

Keselamatan tidak dapat dipisahkan dari Firman Tuhan. Dalam Roma 1:16 ini sangat jelas menunjukkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Dikuduskan oleh Firman artinya dengan kuasa Firman Tuhan yang dipahami, maka seseorang dapat didewasakan agar tidak lagi hidup dalam dosa, tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah. Firman Tuhan menguduskan artinya Firman Tuhan menghindarkan manusia dari berbuat jahat (Yoh. 17:14-17). Tentu manusia yang harus tekun belajar kebenaran Firman Tuhan, sebab kalau seseorang tetap dalam Firman barulah ia dapat dimerdekakan (Yoh. 8:31-32). Dimerdekakan di sini maksudnya adalah dibebaskan dari kecenderungan berbuat dosa. Bagaimana proses kemerdekaan itu berlangsung?

Menjawab pernyataan di atas kita harus memahami dan dapat membedakan pengertian Firman dalam arti Logos dan Rhema. Pada waktu seseorang mendengar Firman Tuhan, cara berpikirnya diubah dengan pengajaran yang diajarkan secara penalaran atau kognitif. Dalam hal ini Firman (logos) menjadi pengertian di dalam pikirannya. Logos adalah Firman yang dipahami di dalam pikiran melalui pengajaran yang didengar. Misalnya seseorang mendengar Firman: Kasihilah musuhmu. Ini bukan berarti seseorang sudah bisa mengasihi musuh. Pengertiannya mengenai mengasihi musuh belum tentu dapat diperagakan atau dilakukan. Untuk itu seseorang harus mengalami secara konkret atau riil bagaimana dimusuhi seseorang. Pada waktu dalam pergumulan dimusuhi tersebut, Roh Kudus akan mengingatkan perkataan Tuhan. Di sini Firman (logos) yang sudah dipahami secara akal pikiran diterjemahkan secara konkret dalam kenyataan hidup. Roh Kudus akan berbicara kepada orang tersebut. Perkataan Tuhan inilah yang disebut sebagai Rhema.

Dalam kasus-kasus tertentu dan untuk orang-orang tertentu (bagi mereka yang mengasihi Tuhan), Tuhan memroses pengudusan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan (Rm. 8:28). Semua ini dilakukan oleh Tuhan, khususnya untuk mereka yang merasa perlu dan sungguh-sungguh bersedia menerima didikan atau pukulan dari Allah (Ibr. 12:7-9).

Tidak ada pendewasaan tanpa pengalaman dalam kehidupan nyata setiap hari.

Memang proses ini tidak menyenangkan bahkan tidak jarang yang menyakitkan, tetapi Tuhan melalui segala pengalaman-pengalaman riil tersebut hendak membersihkan karakter dosa kita. Dalam hal ini Bapa mendidik kita melalui Roh-Nya. Inilah yang dimaksud dikuduskan oleh Roh Allah. Oleh pekerjaan atau pimpinan roh seseorang dimungkinkan untuk memiliki ketaatan kepada Bapa. Jadi, bukan dengan kuat dan gagah seseorang daapat melakukan atau mencapai kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah, tetapi oleh Roh Allah yang menolong orang percaya. Roh Allah adalah fasilitas keselamatan yang disediakan guna membawa orang percaya kepada kesempurnaan Allah.

Kalau kata “dikuduskan” ini dihubungkan dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Ia menguduskan Diri-Nya, supaya orang percaya dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:18), maka berarti Tuhan Yesus berusaha untuk taat agar bisa menggenapi rencana Allah. Tuhan Yesus sendiri harus bergumul untuk bisa mencapai kesempurnaan. Ia tidak mencapainya dengan mudah. Ia harus bergumul hebat. Hal itu dilakukan agar setelah ia mencapai kesempurnaan, Ia dapat menjadi teladan bagi orang percaya dan Allah memakai-Nya sebagai alat keselamatan. Demikian pula orang percaya dapat dikuduskan dengan kebenaran supaya bisa dipakai oleh Bapa (Yoh. 17:19). Dalam Ibrani 5:8-9 tertulis: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya”. Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, Ia menjadikan manusia untuk dikuduskan dan dipakai oleh Bapa, sebagaimana Diri-Nya sendiri juga telah mengalaminya. Paulus juga dikuduskan untuk ini, yaitu menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menggenapi rencana Allah (Rm. 1:1).

Dalam hal ini jelas sekali bahwa pengudusan Tuhan bukan hanya berhenti dimana orang percaya dipindahkan statusnya dari orang berdosa menjadi anak, juga bukan sekadar diperbaiki karakternya, tetapi juga direncanakan untuk menjadi alat dalam tangan Bapa guna menggenapi rancana-Nya. Rencana Bapa adalah membinasakan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Hal ini sejajar dengan pengertian kudus dalam bahasa Ibrani qadhos, yang artinya dipisahkan dari yang lain untuk digunakan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.