31. Bertemu Dengan Orang Yang Melukai

DALAM MEMPERSIAPKAN DAUD menjadi orang besar, Tuhan harus mengambil Daud dari padang rumput dan menggeseknya untuk mempertajam dirinya.1 Kalau ia tetap tinggal di padang rumput menggembalakan domba, ia tidak akan pernah menjadi raja. Daud ditajamkan oleh Goliat, Saul, penduduk Zif yang mengkhianatinya dan segudang pengalaman lain yang menyakitkan. Semua itu merupakan cara Allah mempersiapkan Daud menjadi orang besar. Oleh sebab itu adalah salah kalau seseorang hendak mencari kesempurnaan harus pergi ke tempat yang sunyi menjauhi keramaian, semedi atau bertapa di tempat-tempat sepi. Adalah jauh lebih mudah hidup jauh dari godaan-godaan seperti mereka ini, daripada mereka yang tinggal di kota. Memang kelihatannya mereka yang pergi ke tempat-tempat sunyi kelihatan lebih sukar, tetapi sebenarnya lebih mudah. Yang sukar adalah dekat dengan godaan tetapi tidak berbuat dosa. Melarikan diri dari keramaian merupakan usaha untuk mencari mudahnya hidup, seperti pengecut yang takut perang. Kita yang hidup di kota memiliki pergumulan yang jauh lebih berat. Seperti kalau puasa, memang tidak ada makanan itu gampang, tetapi kalau puasa di tengah-tengah berlimpahnya makanan itu adalah hal yang sukar. Kita perlu memperhatikan bagaimana Allah memproses kita melalui berbagai sarana, seperti misalnya melalui teman di kantor. Dalam kenyataan hidup ini selalu saja ada orang yang menjengkelkan dan merugikan kita. Sebab itu hendaknya kita tidak berharap ada tempat dimana kita dapat merasa nyaman tidak bertemu dengan orang yang tidak menyakiti kita. Berkenaan dengan hal ini, hendaknya kita tidak menghindari tempat dimana terdapat keadaan yang tidak nyaman, jika Tuhan tidak menghendaki kita bergerak pindah.

Gesekan juga dapat melalui pasangan hidup. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak bermimpi memiliki pasangan hidup yang sempurna, pasangan yang tidak memiliki kekurangan dan kesalahan. Harus diingat bahwa kita tidak menikah dengan malaikat yang sempurna tak bercacat. Pasangan hidup kita pasti adalah manusia yang juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Kita harus belajar menerima pasangan hidup kita apa adanya. Orang percaya harus menjauhi praktik kawin cerai karena berharap dapat menemukan jodoh yang sempurna. Kita tidak akan pernah menemukan jodoh yang sempurna. Kita harus menerima kekurangan, kelemahan dan kegagalan pasangan hidup kita sebagai sarana penajaman untuk menyempurnakan kita.

Penajaman juga bisa terjadi melalui mertua, anak, ipar, orang tua, tetangga, teman bisnis, pendeta, majelis, teman sepelayanan dan semua manusia di sekitar kita. Penajaman ini memang menyakitkan, bisa menimbulkan luka. Sebagai besi yang bergesekan, panas, bisa menciptakan pijaran api, melelahkan, menjengkelkan dan berbagai hal yang menyakitkan, tetapi inilah sarana yang Allah sediakan guna penyempurnaan kita. Oleh sebab itu seseorang harus mengerti kebenaran, mengakuinya serta berkomitmen menjadikan perjalanan hidup ini sebagai sekolah kehidupan. Agar waktu umur hidup yang Tuhan sediakan dapat digunakan untuk membawa diri kita kepada kebenaran Tuhan. Kenyataannya, banyak orang yang tidak menggunakan waktunya guna membawa diri kepada kebenaran Allah. Mereka menggunakan waktunya hanya untuk mengumpulkan harta, meraih cita-cita duniawi seperti pangkat prestasi, gelar dan lain sebagainya. Bagi mereka perjalanan hidupnya hanyalah kesempatan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya. Banyak orang lupa bahwa hidup ini sekarang baru permulaan dari sebuah kesadaran abadi di kehidupan yang akan datang nanti.2 Sesungguhnya di balik kehidupan hari ini masih ada kehidupan yang panjang yang Allah sediakan yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh-tokoh iman dalam Alkitab yang juga menjadi kerinduan kita.

1) Amsal 27:17 ; 2) 1Korintus 15:32; Lukas 16:19-31

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.