30. Yang Bernilai Tinggi

SIKAP MENINGGIKAN DAN menyanjung Tuhan diekspresikan dalam tindakan menilai Allah lebih berharga dan mulia dari segala sesuatu. Daud tidak segan-segan melepaskan jubah kebesarannya sebagai raja kemudian bergabung dengan rakyat menari di hadapan Tuhan.1 Daud adalah salah satu figur atau sosok manusia yang dapat kita teladani dalam hal menyanjung Allah. Ia memiliki intuisi rohani yang berkenan di hati Allah, khususnya dalam memperlakukan Allahnya. Seorang yang menghargai Allah adalah seorang yang tidak akan menghina Tuhan dengan pelanggaran terhadap kehendak-Nya. Daud dalam hidupnya juga pernah mengalami kegagalan dalam hal menghormati Tuhan.2 Seorang yang menghargai Allah di atas segala sesuatu akan memiliki hati yang takut akan Dia. Hal ini dapat nampak dalam kisah Abraham ketika ia mengorbankan Ishak di bukit Moria. Nampak betapa Abraham menghargai Allah di atas segala perkara, ia takut akan Allah.3 Oleh sebab itu dianggap jahat oleh Allah tatkala Daud menghitung rakyatnya.4 Pendaftaran itu bisa berindikasi bahwa Daud hendak bergantung kepada kekuatan tentaranya atau Daud bangga dengan prestasinya sehingga ia menghargai keberhasilannya sebagai harta yang mulia dan ia merasa terhormat.

Setelah jatuh bangun, Daud menemukan banyak pelajaran rohani yang berharga, sehingga ia dapat berkata hanya dekat Allah saja aku tenang. Orang yang sungguh-sungguh memiliki prinsip hidup seperti di atas ini akan memiliki pengakuan seperti Daud.5 Seorang yang menilai Allah lebih berharga dari segala sesuatu pasti menjauhi dosa. Hal ini terbukti dalam kehidupan Yusuf yang tegas menolak permintaan istri Potifar untuk berbuat dosa.6 Orang percaya yang tidak menjadikan dunia ini sebagai nilai tertingggi hidup, tetapi memandang Tuhan sebagai yang bernilai tinggi dalam hidup, akan rela melepaskan segala sesuatu demi kepentingan pekerjaan Tuhan. Ia tidak akan pelit terhadap pekerjaan Tuhan. Ia akan rela membela kepentingan Kerajaan Surga. Jadi, orang yang meninggikan dan menyanjung Tuhan adalah orang yang pasti melayani Tuhan. Jadi, kalau seseorang hanya bisa menyanyi di gereja, belum berarti sudah meninggikan dan menyanjung Tuhan. Tuhan tidak cukup disanjung dengan nyanyian tetapi dengan tindakan konkret. Firman Tuhan mengatakan agar kita memuliakan Tuhan dengan harta dan tubuh kita.7 Akhirnya, orang-orang yang meninggikan Tuhan seperti Abraham, Yusuf, Daud, Sadrack beserta teman-temanya, dan lain-lain adalah orang-orang yang berhasil dalam segala aspek dan bidang hidup di dunia, terutama menjadi kekasih Tuhan di kekekalan nanti.

Sejak seorang anak manusia terlahir, dunia sekitarnya telah menunjukkan dan mengajarkan bagaimana memberi penghargaan atau nilai terhadap segala hal. Segala hal tersebut antara lain meliputi kehormatan, kekayaan, pangkat, gelar, perhiasan, perasaan, penampilan dan lain sebagainya. Dengan demikian sejak kecil seseorang telah dididik memiliki gaya hidup seperti lingkungannya. Sekarang ini kita hidup di sebuat tatanan ekonomi yang merangsang dan mendorong orang untuk berbelanja atau memiliki apa yang orang lain miliki. Hampir semua manusia disesatkan oleh filosofi hidup ini. Penghargaan atau nilai yang diberikan orang pada umumnya terhadap segala hal, seakan-akan menjadi nilai yang kita harus berikan juga. Hal ini menyebabkan banyak orang memberi nilai secara tidak proporsional terhadap segala sesuatu. Ironis, untuk hal-hal dunia manusia memberi nilai yang tinggi, tetapi untuk hal-hal rohani atau Tuhan sendiri dan Kerajaan-Nya, manusia memberi nilai yang sangat rendah. Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang masih terbawa arus dunia ini. Cara mereka memberi nilai atau penghargaan terhadap sesuatu mengacu atau mengikuti standar pada nilai yang telah ditetapkan oleh dunia. Mereka tidak pernah bisa meninggikan Tuhan.

1) 2Samuel 6:11-16, 20-23 ; 2) 2Samuel 12:7-14 ; 3) Kejadian 22 ; 4) 1Tawarikh 21:7 5) Mazmur 62:2-3 ; 6) Kejadian 39 ; 7) Amsal 3:9; 1Korintus 6:19-20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.