30 September 2014: Penghargaan Yang Agung

Lukas 4:5-8 memiliki kesamaan kebenaran dengan Ibrani 12:16-17. Inti dari pelajaran rohani yang dapat dipetik dari kedua perikop tersebut adalah bahwa bahwa diri kita tidak boleh terjual kepada dunia ini. Hal ini sama dengan bahwa kita tidak boleh memberikan diri kita kepada obyek mana pun demi sesuatu yang dipandang sebagai keindahan dan kenikmatan. Keindahan dan kenikmatan hanya pada Tuhan. Kalau seseorang memandang ada sesuatu yang dinilai lebih indah dari Tuhan, ini berarti sebuah ketidaksetiaan atau perjinahan rohani di hadapan Tuhan. Orang seperti ini pasti bisa mengorbankan Tuhan demi hal tersebut, sebab Tuhan dinilai lebih rendah. Banyak orang telah berbuat demikian, dan mereka tidak menyadari betapa berbahayanya keadaan mereka itu.

Dunia ini sudah menjadi pemandangan yang indah dan kenikmatan hidup bagi semua orang yang hidup di dalamnya, termasuk kita. Sejak kecil telah diajarkan kepada kita bahwa dunia ini indah dan nikmat. Kita harus sukses meraih sebanyak-banyaknya demi kebahagiaan hidup ini. Semakin meraih banyak semakin merasa lebih bahagia dan aman. Berangkat dari filosofi tersebut kita sekolah, kuliah, karir dan lain sebagainya. Inilah cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang. Tuhan Yesus datang untuk menebus kita dari cara hidup yang sia-sia yang kita warisi dari nenek moyang. Maksudnya agar kita tidak lagi memiliki hidup dengan gaya hidup tersebut. Kita sebagai umat pilihan dipanggil keluar dari dunia ini, seperti bangsa Israel yang dipanggil keluar dari Mesir. Mereka yang merasakan kenikmatan Mesir akan merasa keberatan untuk keluar dari Mesir. Mereka sudah merasa nyaman di Mesir, sedangkan Kanaan tidak jelas keadaannya. Untuk mau dan bisa keluar harus percaya bahwa negeri yang ditunjukkan Tuhan lebih baik. Dalam konteks hidup orang percaya, kita harus mengalami pencerahan sehingga kita mengerti pengharapan apakah yang terkandung di dalam keselamatan kita (Ef. 1:8: Kol. 1:5,23). Untuk ini pikiran harus diterangi dengan kebenaran sehingga kita memahami harta di Surga yang nilainya lebih dari segala sesuatu yang kita miliki di bumi ini. (Mat. 6:21). Untuk itu kita harus menyadari bahwa selama hidup di dunia adalah perjuangan proses jual beli ini selalu ada di sepanjang sejarah hidup gereja Tuhan. Di akhir jaman semakin banyak yang menjual diri berkhianat terhadap Tuhan. Tetapi yang bertekun atau bertahan akan selamat (Mat. 24:12-13).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.