30 Oktober 2014: Target Yang Tidak Boleh Diganti

Target rohani bisa dipahami seseorang ketika ia bertumbuh dalam Tuhan dan benar-benar menyadari bahwa ia belum berkeadaan seperti yang Tuhan kehendaki. Target yang Tuhan kehendaki adalah menjadi manusia seperti yang dirancang Tuhan. Hal ini merupakan harta abadi yang harus dikumpulkan. Harta abadi ini nilainya tidak terukur dengan apa pun, melampaui segala sesuatu yang dapat kita raih di dunia ini. Seiring dengan mata rohani yang tercelik melihat target yang harus dicapai maka gairah untuk mencapai target-target dari Tuhan berkobar dalam hati. Tanpa mengerti nilai target ini maka seseorang tidak akan memiliki gairah yang kuat untuk mencapainya. Dalam hal ini bisa dimengerti kalau banyak orang tidak bergairah di dalam Tuhan dengan gairah yang benar untuk bertumbuh mencapai level berkenan di hadapan Tuhan, sebab mereka tidak mengerti target yang harus dicapai. Dalam tulisannya Paulus mengatakan: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” ( 1Kor. 9:26-27). Dari apa yang dikemukakan Paulus ini dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak memiliki target bisa tertipu oleh dirinya sendiri, merasa sudah berbuat kebaikan atau berprestasi dalam pelayanan padahal akhirnya dirinya ditolak oleh Allah. Kalau seorang Paulus yang hebat bisa memiliki kecurigaan seperti itu terhadap dirinya sendiri, maka kita seharusnya lebih memiliki kecurigaan yang sama. Kita harus serius berpikir, apakah kalau kita berdiri di hadapan Tuhan kita sudah bisa dinyatakan mencapai target yang Tuhan kehendaki. Target itu adalah berkenan kepada-Nya atau melakukan kehendak Bapa. Bagi orang-orang yang tidak menyadari adanya target hidup tersebut, mereka berpikir yang penting tidak berbuat sesuatu yang melanggar etika kesantunan hidup. Padahal belum tentu mereka sudah berkenan kepada Tuhan. Orang-orang Kristen ini seperti memarkir pesawatnya di hanggar pesawat dan berniat tidak akan terbang lagi. Akhirnya pesawat hidupnya akan menjadi besi tua yang tidak berguna sama sekali. Keadaan berkenan di hadapan Tuhan adalah target yang tidak bisa dikurangi atau diganti. Hal ini sama dengan hidup tanpa kemelesetan; dosa artinya meleset. Orang yang masih meleset berarti belum dikembalikan ke rancangan semula atau menemukan kemuliaan Allah yang hilang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.