30. KESEDERHAAN YANG SEJATI

Salah satu senjata untuk dapat menaklukkan semangat atau gairah zaman ini adalah bersedia hidup dalam kesederhanaan. Hidup dalam kesederhanaan bukan berarti tidak memakai perhiasan, pakaian, dan fasilitas lain yang baik. Kita harus bisa membedakan antara berpenampilan baik untuk menjadi berkat, dengan berpenampilan untuk memperoleh penilaian dari sesama demi harga diri atau nilai diri. Dalam hal ini kita harus bisa memahami pengertian kepatutan. Kepatutan dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah, menggunakan perhiasan, dan lain sebagainya, harus didasarkan pada kesediaan diri untuk menjadi berkat. Agar hidup kita memancarkan Pribadi Kristus. Kalau seseorang sudah terikat dengan barang branded, maka sulitlah baginya untuk memahami pengertian kepatutan. Gaya hidup ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan membanggakan. Biasanya orang seperti ini mencari nilai diri dari barang yang dimiliki dan dikenakan. Betapa miskinnya mental orang Kristen seperti ini, sebab mestinya yang berharga adalah manusia batiniahnya, bukan lahiriahnya (2Kor. 4:16; 2Ptr. 3:4).

Sesungguhnya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati tidak mencari hormat atau penilaian manusia. Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil, dan segala hal yang ada padanya. Walaupun manusia di sekitarnya menghormati dirinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Mengapa bisa demikian? Sebab ia tidak mencari dan mengharapkan hormat dari manusia, tetapi dari Allah. Tuhan Yesus menyatakan, bagaimana seseorang bisa percaya kalau masih mencari hormat satu dengan yang lain (Yoh. 5:44)? Jadi, satu hal yang sangat prinsip, bahwa kita tidak boleh mencari dan mengharapkan hormat dari manusia.

Teladan satu-satunya mengenai kesederhanaan adalah Tuhan Yesus Kristus. Ketika Ia meninggalkan kemuliaan-Nya, tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan Diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya. Ciri yang paling nyata dari orang yang memiliki sikap sederhana adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya”.

Orang yang membangun nilai diri berdasarkan barang yang dikenakan dan dimiliki, membawa dirinya kepada keadaan “letih, lesu, dan berbeban berat”. Kalau Tuhan menawarkan kelegaan itu berarti perhentian (Yun. anapauso). Perhentian di sini artinya, perhentian dari pengembaraan jiwa yang mengingini banyak hal. Perhentian di sini artinya juga jiwa dilabuhkan pada Tuhan, bukan kepada yang lain. Dalam pernyataan-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia rendah hati dan lemah lembut (Mat. 11:28-29). Rendah hati dan lemah lembut adalah jiwa atau nafas dari spirit (gairah) kesederhanaan. Tanpa kerendahan hati dan kelemahlembutan seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, seseorang tidak akan memiliki kesederhanaan yang diinginkan oleh Bapa di surga. Kalau kita meneropong kehidupan Tuhan Yesus, Ia adalah Pribadi yang tidak memiliki keinginan kecuali “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Pola hidup seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus ini adalah pola hidup sederhana yang tidak rumit, tetapi agung tiada taranya.

Kita harus menyadari bahwa segala keinginan manusia akan berakhir sia-sia. Apa pun yang kita ingini yang bukan berasal dari Allah, suatu hari nanti akan berakhir dan lenyap, tiada bekas dalam kebinasaan. Oleh sebab itu kita tidak boleh dikuasai oleh suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Biasanya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah keinginan manusia itu sendiri. Hal ini membuat manusia menjadi tuhan bagi diri sendiri, bila berkeadaan kuat (kaya dan memiliki kuasa duniawi), ia juga menjadi tuhan bagi sesamanya. Tetapi mereka tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Keinginan-keinginan yang berasal dari diri manusia itu sendiri pasti menggeser keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Kita harus mengerti bahwa singkatnya hidup di dunia ini adalah kesempatan untuk dapat mengubah kodrat diri. Dari kodrat manusia menjadi kodrat ilahi. Di sinilah sebenarnya letak nilai diri kita sebagai anak-anak Allah. Manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi yang memiliki kesadaran mengenai nilai diri. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan nilai diri yang sangat luar biasa, sebab manusia diciptakan serupa dengan Allah. Di sinilah letak kemuliaannya. Dengan demikian inti nilai diri manusia terletak pada keberadaannya yang serupa dengan Allah, bukan pada pakaian, perhiasan, mobil, rumah, dan lain sebagainya seperti yang ada di pikiran banyak orang.

Seperti yang dikemukakan, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran terhadap nilai diri. Secara naluri manusia bergerak, menjalankan kehidupannya untuk menemukan dan memiliki nilai diri. Tetapi oleh karena tidak mengenal kebenaran, maka manusia menjadi sesat. Nilai diri yang dikejar sebenarnya bukanlah nilai diri yang benar. Kebutaan pengertian atau kebodohan manusia mengakibatkan manusia tidak menyadari kemiskinannya tersebut, sehingga tidak berusaha menemukan kembali nilai dirinya yang telah jauh dari standar rancangan Allah semula. Manusia mengalihkan perhatiannya kepada banyak hal yang tidak mengembalikan dirinya kepada nilai diri yang sesungguhnya.

Dalam hal tersebut, manusia berusaha membangun nilai diri dengan pendidikan tinggi, pangkat, penampilan, fasilitas yang dimilikinya (rumah, mobil, perhiasan, dan lain sebagainya), teman hidup atau jodoh, keturunan, dan lain sebagainya. Tetapi mereka tidak memperolehnya, sebaliknya malah semakin merusak nilai diri. Hal ini sangat mengerikan. Tetapi banyak orang tidak menyadarinya, karena tidak mengerti atau tidak mau mengerti. Kuasa kegelapan berusaha membutakan mata pengertian mereka, sehingga mereka semakin buta terhadap kebenaran dan menjadi bodoh. Kuasa kegelapan berhasil membelenggu banyak manusia dalam penjara kebutaan atau kebodohan ini, sehingga menggiring mereka ke dalam kegelapan abadi.

Ciri dari orang yang dibutakan tersebut adalah membanggakan perkara materi yang dimilikinya, sebab baginya itulah yang menentukan nilai dirinya. Ia akan memanfaatkan apa pun termasuk Tuhan untuk kepentingan ini. Ironisnya, gereja penuh dengan manusia yang masih dalam gaya hidup ini. Untuk hal tersebut, seharusnya kebenaran Injil yang diajarkan kepada jemaat dapat membuka mata pengertian mereka terhadap hal nilai diri ini. Kalau gereja tidak berbicara lantang, maka banyak orang Kristen yang akan binasa. Gereja harus menjadi tempat di mana mata pengertian seseorang dibukakan untuk menyadarkan kemiskinannya. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh menghargai materi seakan-akan itu yang memberi nilai atas kehidupan mereka.

Banyak orang yang pikirannya disesatkan oleh pengertian bahwa nilai diri manusia ditentukan oleh kekayaan, gelar pendidikan, keturunan, dan lain sebagainya. Padahal, semua yang dianggap dapat memberi nilai diri tersebut adalah sia-sia belaka. Hal ini akan disadari ketika seseorang harus melepaskannya atau ketika seseorang masuk ke dalam kekekalan. Ternyata apa yang selama ini dianggap sebagai nilai diri hanyalah “fantasi di pikiran saja”, di pikirannya sendiri, dan di pikiran banyak orang. Manusia pada zaman ini tidak memedulikan hal ini. Mereka berjalan dalam kegelapan tanpa menyadari bahaya dahsyat di depan mata mereka. Selangkah mereka masuk ke dalam kematian, mereka sudah menyaksikan kekekalan tersebut.

Banyak orang Kristen yang menolak untuk berjuang guna mengenakan kodrat Ilahi. Perjuangan mereka hanyalah perjuangan untuk memiliki harta dunia dan menikmati hiburan dunia dengan segala kesenangannya. Perjuangan mereka juga hanya untuk menjadi seseorang seperti yang diidolakannya. Mengidolakan manusia sukses yang berlimpah harta, karenanya mereka bekerja keras untuk mencapainya. Mereka mengidolakan orang bergelar tinggi yang terhormat, karenanya mereka memburu ilmu pengetahuan guna menemukan citra dirinya. Mereka mengidolakan orang berpangkat, karenanya berkiprah di gelanggang politik dan lingkungan aparat dan lain sebagainya.

Karena objek perburuannya bukan Tuhan, maka mereka membelakangi Tuhan, atau tidak memperlakukan Tuhan secara patut. Sebagai orang percaya yang mengenal kebenaran, kita harus memahami bahwa nilai diri kita adalah menjadi anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi. Hanya satu idola kita, yaitu menjadi seperti Yesus. Satu-satunya perjuangan kita adalah menjadi seperti Dia yang memiliki kesederhanaan yang sempurna.

Sebagai umat pilihan yang mengerti kebenaran, kita juga harus berani membunuh hasrat untuk mencari dan membangun nilai diri dari barang-barang dunia ini. Untuk itu kita harus dengan murni dan jujur membunuh keinginannya sendiri yang bertentangan dengan keinginan Tuhan. Keinginan Tuhan pasti bertendensi memuliakan Bapa di surga, bukan memuliakan diri sendiri. Membunuh keinginan sendiri berarti tidak mengarahkan segala sesuatu yang dilakukan bagi dirinya sendiri. Baginya, segala kepentingan adalah kepentingan Tuhan. Baginya, yang penting perasaan Tuhan dipuaskan, pekerjaan Tuhan dijalankan agar rencana-Nya digenapi. Inilah pelayanan yang sungguh-sungguh bagi Tuhan. Dengan demikian kita dapat menantang zaman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.