30 Januari 2015: Sikap Kurang Ajar Yang Tersembunyi

Dalam suatu kesempatan Pemazmur mengatakan: Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.1 Kata kesesatan dalam teks aslinya adalah segiyah ( שְׁגִיאָה ) yang artinya penyimpangan atau kerusakan (Ing. error). Kata bebaskanlah dalam teks aslinya adalah naqah ( נקַָה ) yang juga berarti bersihkanlah. Dosa yang tidak disadari artinya dosa yang tersembunyi, dalam teks aslinya sathar ( .(סתַָר Lindungi aku dalam teks aslinya adalah chesek ( חשַָׂךְ ) yang bisa juga berarti menjaga dan memeriksa. Dalam teks aslinya kata kurang ajar adalah zednagah ( זידונייא ) bisa berarti sikap tidak hormat tetapi yang intinya adalah kesombongan (Ing. arrogant, proud, insolent, presumptuous). Dalam Alkitab bahasa Indonesia terdapat kata “orang kurang ajar”, tetapi sebenarnya dalam teks asli, kata “orang” dalam ayat tersebut tidak ada, dan sikap kurang ajar itu menunjuk kepada diri kita sendiri, bukan orang lain. Dalam kehidupan ini ternyata banyak kesalahan yang kita lakukan tanpa kita sadari yang sebenarnya sikap kurang ajar terhadap Tuhan. Kita harus bergumul agar sikap kurang ajar tidak menguasai atau mencengkeram. Kata “menguasai” dalam teks aslinya adalah mashal ( משַָׁל ) yang artinya memerintah atau mendominasi (Ing. rule). Oleh sebab itu kita harus belajar kebenaran agar dapat memiliki kecerdasan sehingga dapat hidup dalam persekutuan dengan Tuhan secara harmoni. Selanjutnya kita semakin memiliki kepekaan untuk dapat mengerti dengan benar keadaan diri kita di hadapan- Nya sama seperti Tuhan mengenali diri kita. Dalam Matius 7:21-23, orang- orang yang ditolak Tuhan mengira bahwa mereka sudah berbuat sesuatu yang bisa menjadi alasan untuk diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Allah, tetapi ternyata tidak diterima. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti pikiran dan perasaan Tuhan. Mereka gagal mengenal dirinya sendiri. Dalam hal ini, kekristenan harus merupakan pergumulan mengenal diri dengan benar seperti Allah mengenalnya. Seiring dengan mengenal Tuhan dan mengenal diri sendiri dengan benar, selanjutnya berusaha untuk mencapai target hidup menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh Tuhan. Oleh sebab itu kita tidak boleh lagi mengatakan: Ampunilah perbuatanku yang di mata-Mu tidak berkenan, tanpa mengerti apa yang tidak berkenan tersebut. Permintaan ampun harus disertai pemahaman terhadap kesalahan dan kesediaan berubah. Sebenarnya mengenai dosa dan kesalahan yang sudah, sedang dan akan kita lakukan, semuanya sudah selesai di kayu salib. Tuhan Yesus sudah memikulnya dan telah selesai. Hal tersebut tidak perlu dipersoalkan, tetapi yang harus dipersoalkan adalah keadaan diri kita di hadapan Tuhan, yang dalam segala tindakan harus tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Tuhan Yesus menyelamatkan manusia dengan memikul semua dosa di kayu salib untuk supaya dapat membawa orang percaya kepada ketepatan bertindak seperti yang Bapa kehendaki. Untuk memiliki ketepatan bertindak sesuai dengan kehendak Bapa haruslah menjadi tangggung jawab setiap individu orang percaya. Hal ini tidak bisa terjadi oleh anugerah atau pemberian cuma- cuma. Yang cuma- cuma adalah “pancingnya” atau sarananya, bukan ikannya. Ikannya adalah hasil dari perjuangan setelah menerima pancing atau anugerah itu. Kalau dalam tulisan ini menggunakan kata pancing bukan berarti anugerah sama persis seperti pancing. Ini hanyalah sebuah ilustrasi untuk mempermudah kita dalam memahami kebenaran mengenai hal tersebut. Kesalahan banyak orang adalah mereka berpandangan bahwa Tuhan memberi pancing sekaligus ikan. Itulah sebabnya mereka yang salah memahami hal ini tidak memiliki usaha serius untuk mengerti kehendak Tuhan, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

1) Mazmur 19:13-14

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.