30. INJIL YANG BENAR

Bagaimana Injil yang benar itu? Injil yang benar tertulis dalam kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Injil yang telah diberitakan oleh Paulus. Untuk memahami Injil yang diberitakan Paulus, perlulah mendalami surat-surat Paulus yang tertulis dalam Alkitab. Di dalamnya memuat apa yang Tuhan ajarkan kepada mereka yang harus diteruskan kepada orang percaya di sepanjang abad. Jadi bila seorang pembicara salah mengartikan isi Alkitab, itu berarti ia memberitakan Injil yang lain. Injil yang benar adalah semua kebenaran yang termuat dalam Alkitab.

Bagaimana dapat memahami Injil yang benar kalau tidak memahami isi Alkitab? Memang sebelum ada kitab Perjanjian Baru, murid-murid Tuhan Yesus belajar langsung dari Tuhan. Tetapi setelah ada Alkitab orang percaya yang hendak mengenal Injil yang benar harus belajar dari Alkitab. Tidak ada saluran lain yang diajarkan Tuhan selain Alkitab. Hal ini ditegaskan Tuhan Yesus dengan ucapan-Nya: Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepada-Mu. Jadi bukan Tuhan Yesus sendiri secara langsung, murid-murid-Nyalah yang meneruskan pengajaran-Nya, dan pengajaran Tuhan tersusun dalam Alkitab ini.

Tuhan Yesus Kristus tatkala memberitakan Injil di bumi selama 3,5 tahun, sebagian besar waktu-Nya digunakan untuk mengajar (Mat.4:23; 9:35; 26:55; Luk. 19:47 dll). Paulus pun dalam perjalanan pelayanannya mengajarkan “Injil” di mana-mana dengan mengajar. Mengajarkan Injil artinya menjelaskan kebenaran Allah secara mendalam dan luas. Pengajaran Yesus memiliki jelajah yang luas dan dalam. Jadi misi Injili adalah pemberitaan Injil yang benar dengan mengjajarkan sepenuh isi Alkitab kepada umat manusia.

Memberitakan Injil sama dengan mengajarkan kebenaran Alkitab secara lengkap. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Paulus dalam seluruh tulisannya dan kitab Ibrani. Dalam Ibrani 6:1-2, disebutkan tentang asas-asas pertama dan ajaran tentang Kristus, selanjutnya ada ajaran lanjutan. Oleh sebab itu, kalau mau mengerti ajaran Injil yang benar, orang percaya harus tekun belajar dengan sungguh-sungguh dan membutuhkan waktu panjang. Tentu belajar dari orang yang mengerti ajaran tentang Injil Yesus Kristus tersebut dengan benar.

Selanjutnya, ajaran yang benar akan membuahkan “roh” dalam arti semangat atau gairah (Spirit) hidup yang benar. Injil yang benar akan menciptakan manusia rohani yang hatinya ada di surga (Mat. 6:21-22). Injil artinya kabar baik. Baik yang bagaimana? Kalau baiknya diarahkan kepada hal-hal dunia, maka itu berarti penyesatan. Sebab hal-hal dunia atau fasilitas dunia juga bisa diberikan Iblis (Luk. 4:4-8). Kata “baik” dari kata eu (Yunani) di sini adalah menyangkut “kebenaran”, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).

Jemaat harus dilepaskan dari Injil yang sesat (berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata) dengan kuasa kebenaran Injil, yaitu kebenaran yang termuat dalam Alkitab secara benar. Inilah yang dimaksud bahwa Firman-Nya menguduskan (Yoh. 17:17). Kenyataan hari ini jemaat lebih diarahkan kepada kepentingan fisik pemenuhan kebutuhan jasmani daripada batiniahnya yang harus terus menerus diperbaharui. Menjadi orang percaya berarti telah dibawa kepada habitat baru, yaitu habitat warga Kerajaan Surga. Dalam hal ini orang percaya harus berani meninggalkan dunia dengan segala konsepnya agar dapat menjadi umat Kerajaan Allah yang baik.

Gereja yang benar adalah gereja yang sungguh-sunguh membawa umat Tuhan
kepada “perkara-perkara yang di atas”.

Inilah yang membedakan orang percaya dengan bangsa Israel secara lahiriah. Mereka berorientasi kepada hal-hal dunia, makan minum, kawin mengawinkan, kesehatan dan lain sebagainya, sehingga mengabaikan hal-hal rohani yang seharusnya menjadi perhatian utama. Dengan uraian ini bukan berarti kita tidak membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmaniah. Orang percaya memang membutuhkannya, tetapi hal-hal tersebut bukanlah tujuan utama kehidupan. Belakangan ini masih dijumpai begitu banyak orang Kristen yang menjadikan hal-hal duniawi tersebut sebagai tujuan utama kehidupan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.