30. Gesekan Yang Mendewasakan

TUHAN MENDEWASAKAN KITA melalui tekanan dan berbagai gesekan. Hal ini digambarkan dengan proses besi menajamkan besi.1 Besi menajamkan besi menunjukkan sebuah gesekan yang melukai. Besi menajamkan besi akan menimbulkan pijaran api; api emosi, kemarahan, sakit hati, kepahitan dan berbagai perasaan yang bisa ditimbulkan oleh orang di sekitar kita. Menanggapi kejadian-kejadian tersebut kita harus peka untuk dapat menangkap pesan Tuhan, yaitu bagian mana dalam hidup kita yang melalui peristiwa atau kejadian tertentu Tuhan hendak mengubah kita. Melalui kejadian-kejadian yang kita alami ada bagian dalam hidup kita yang digarap untuk diperbaiki oleh Tuhan. Tuhan sebagai arsitek jiwa mengerti benar bagaimana membentuk jiwa kita menjadi jiwa yang berunsur Ilahi, dari manusia yang berkodrat dosa (sinful nature) menjadi manusia yang berkodrat Allah (devine nature).

Dalam hal ini keterlibatan kita sangat dibutuhkan. Kedewasaan rohani adalah tanggung jawab; sebuah perjuangan. Tidak ada cara mukjizat untuk pembentukan Tuhan. Kedewasaan rohani yang dicapai bukanlah karunia, tetapi buah kehidupan. Berarti kedua belah pihak aktif, baik kita maupun Tuhan. Kalau Tuhan menganggap proses pendewasaan ini adalah bisnis penting-Nya, maka kita juga harus memiliki pendirian yang sama. Satu proyek, satu arah, satu jalur dengan Tuhan. Bila demikian pasti kita bisa menjadi carang yang berguna dan berbuah.2 Dalam hal ini Tuhan juga berkata: “Bekerjalah bukan untuk makanan yang fana tetapi untuk yang dapat memberi hidup kekal.”3 Menyadari hal ini maka kita harus mengucap syukur untuk setiap kejadian, termasuk hadirnya orang-orang di sekitar kita yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita.4 Tidak mengkambing hitamkan pihak lain yang dianggap sebagai penyebab kesusahan. Perlu kita memperhatikan Yusuf yang tidak menyalahkan saudara-saudaranya walau mereka telah menyakitinya.

Amsal 27:17 ini ditulis dan dilestarikan sampai hari ini bagi kita sebab dari dalamnya kita dapat menimba kebenaran-kebenaran Allah. Oleh karenanya sangat disayangkan kalau kita tidak memperhatikan apa yang diajarkan oleh Amsal ini. Dalam ayat ini, “besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Ingg. As iron sharpens iron so one man sharpens another). Harus dimengerti dan diterima kebenaran ini bahwa dalam pembentukan kita menuju kesempurnaan yang dikerjakan Tuhan melalui Roh-Nya, Allah menggunakan manusia di sekitar kita untuk proses tersebut. Besi menajamkan besi, manusia ditajamkan oleh sesamanya. Ditajamkan di sini maksudnya adalah dibuat makin dewasa, sempurna, matang dan berkenan kepada Allah. Allah memakai manusia di sekitar kita untuk itu. Allah tidak memakai monyet atau hewan lain, tetapi orang-orang yang dekat dengan kita.

Anggapan yang keliru bahwa cukup melalui nasihat pembacaan Alkitab, buku-buku rohani, kotbah pendeta, maka kita secara otomatis menjadi sempurna. Ini baru sebagian sarana yang dipakai Tuhan mendewasakan kita. Kebenaran-kebenaran Firman yang kita dengar dan pelajari harus dimatangkan dan dikenakan dalam kehidupan melalui berbagai benturan yang terjadi dalam hidup ini. Banyak orang belajar sebanyak-banyaknya dari buku-buku dan mendengarkan kotbah sebanyak-banyaknya dengan harapan melaluinya ia dapat cepat disempurnakan. Itu baru sebagian. Tidak heran kalau ada orang- orang yang merasa diri eksklusif, menjauhi pergaulan dan hidup bermasyarakat hanya karena tidak mau mengalami benturan atau gesekan dengan sesamanya. Kita harus memerhatikan bagaimana tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama disempurnakan Tuhan. Yusuf harus ditajamkan oleh saudara-saudaranya. Kalau ia hanya tinggal di rumah Yakub ayahnya, mimpi yang ia terima yang merupakan janji besar dari Tuhan tidak akan terealisir. Ia ditajamkan oleh Ruben dan abang-abangnya yang lain. Ia ditajamkan oleh nyonya Potifar. Ia ditajamkan oleh pejabat minuman raja yang melupakan budi baiknya.

1) Amsal 27:17 ; 2) Yohanes 15:1-7 ; 3) Yohanes 6:27 ; 4) Roma 8:28

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.