3. TINDAKAN KONKRET

SULIT MENEMUKAN KOTA atau wilayah yang maju seperti tempat asal Abraham. Di luar negeri itu, yang ada hanyalah padang belantara yang buas dan tidak berbelas kasihan. Keluarnya Abraham dari Ur ke arah Kanaan adalah pengembaraan hidup sebagai bangsa nomaden (pengembara) yang keadaannya berbahaya dan perjalanannya pasti sangat sulit serta tidak menyenangkan. Abraham harus meninggalkan budaya, cara hidup dan seluruh pola kehidupan sebagai bangsa yang tinggal di wilayah Ur yang sudah sangat beradab. Langkah Abraham meninggalkan negerinya, kalau tidak dikatakan mencari “penyakit” berarti mencari masalah. Ia pergi untuk menemukan milik pusaka yang dijanjikan oleh Tuhan yang tidak dikenal oleh kebanyakan orang di negerinya.

Abraham pergi dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju. Ini adalah suatu tindakan konyol. Jika orang bertanya kepada Abraham, kemana ia pergi, Abraham tidak dapat menjawab dengan jelas. Ia hanya mengatakan bahwa Tuhan yang dipercayainya yang akan menunjukkan tempatnya. Adalah mudah untuk pergi kalau sudah mengetahui alamat dan situasi tujuan, tetapi Abraham tidak tahu di manakah negeri itu. Ini adalah percaya tanpa syarat. Ia hanya bermodalkan percaya. Bisa saja Abraham mengaku percaya bahwa Tuhan itu baik dan lain sebagainya, tetapi ia merasa tidak perlu meninggalkan Ur-Kasdim, sebab penuh resiko. Ini bukanlah iman yang benar. Abraham bukan menunjukkan imannya dengan perkataan tetapi dengan perbuatan nyata. Percaya di sini bukan hanya persetujuan pikiran tetapi tindakan konkret atas apa yang diyakini. Kalau Abraham meyakini bahwa apa yang dikatakan Tuhan itu baik, maka ia bukan saja setuju atasnya, tetapi melangkah untuk menunjukkan percayanya tersebut. Tindakan Abraham ini sinkron dengan pengertian kata percaya dalam Bahasa Yunani pisteuo (πιστεύω), yang artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayainya.

Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.1 Dalam ayat ini kita menemukan dua versi tanah yang dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham. Pertama, tanah Kanaan yaitu tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham bagi keturunannya. Allah menjanjikan bahwa suatu hari nanti bangsa Israel akan mendiami tanah tersebut. Hal ini digenapi pada waktu Yosua membawa bangsa itu masuk tanah Kanaan (sampai hari ini, walau tidak sepenuhnya dikuasai mereka). Pada umumnya orang Kristen – bahkan sebagian pendeta – hanya mengenal tanah Kanaan ini sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Padahal tanah Kanaan ini tidak hanya dijanjikan untuk diri Abraham sendiri guna menjadi milik pusakanya tetapi dijanjikan Tuhan untuk keturunannya, yaitu bangsa Israel. Sedangkan Abraham mencari tanah atau milik pusaka yang lain. Alkitab menyebutkan sebagai “janji yang satu itu”.

Kedua, negeri atau tanah yang dijanjikan Tuhan menjadi milik pusaka Abraham, yaitu kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.2 Justru karena negeri ini Abraham meninggalkan Ur-Kasdim. Negeri itu bukanlah tanah Kanaan di bumi ini. Abraham, Ishak dan Yakub tidak pernah memiliki tanah Kanaan di bumi ini. Mereka adalah orang-orang yang Alkitab katakan “turut menjadi ahli waris janji yang satu” itu.3 Keturunan merekalah yang akan menguasai dan menikmati tanah Kanaan. Suatu negeri yang berlimpah susu dan madu. Sedangkan nenek moyang bangsa itu, yaitu Abraham, Ishak dan Yakub menantikan kota yang tidak pernah ditemukan di bumi ini. Ketika Sara, istri Abraham meninggal di Kiryat-Arba, yaitu Hebro, Abraham menolak untuk menerima tanah “gratis” dari orang-orang Kanaan (Bani Het). Orang-orang Kanaan menyebut Abraham sebagai “raja agung di tengah-tengah kami” dan mereka sangat menghormatinya.4 Abraham tetap bermaksud membelinya, seolah-olah ia tidak berhak atas tanah yang dijanjikan Tuhan kepadanya.5 Jelas hal ini menunjukkan bahwa tanah itu diyakini bukan untuk dirinya, Ishak dan Yakub, tetapi untuk keturunannya. Abraham sendiri masih bersikap sebagai orang asing di bumi ini. Hal ini menunjukkan penghayatannya terhadap kemusafiran hidupnya yang harus dimiliki orang percaya hari ini sebagai anak-anak Abraham, yang harus terinspirasi oleh kehidupan iman Abraham.

1) Ibrani 11:9 ; 2) Ibrani 11:10 ; 3) Ibrani 11:9 ; 4) Kejadian 23:6 ; 5) Kejadian 23:6

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.