3. STANDAR HIDUP YANG BENAR

MEMANG BILA DITINJAU secara moral umum, manusia bukanlah makhluk yang rusak total atau mutlak atau apa pun istilahnya seperti yang banyak dideskripsikan oleh beberapa teolog. Mereka memandang semua manusia sudah rusak sama sekali, ibarat barang sudah menjadi sampah yang tidak bernilai sama sekali. Pandangan tersebut hanya untuk membela pandangan bahwa manusia dengan keadaannya sebagai makhluk yang berdosa tidak mampu sama sekali meresponi anugerah Allah. Jadi, keselamatan sepenuhnya tergantung pada Allah. Banyak manusia yang dipandang tidak layak menerima keselamatan. Selanjutnya mereka berkeyakinan bahwa keselamatan hanya disediakan bagi orang-orang tertentu saja. Padahal pengertian keselamatan itu sendiri belum dibedah dengan jujur dan mendalam. Jika semua manusia sudah rusak total atau mutlak atau apa pun istilahnya dan tidak bisa diperbaiki, itu berarti semua manusia yang hidup di zaman sebelum Tuhan Yesus pasti masuk neraka; termasuk di dalamnya Henokh, Ayub, Abraham dan beberapa tokoh lainnya. Tetapi pada kenyataannya ada orang-orang di Perjanjian Lama yang dinilai Tuhan sebagai dan pantas menjadi sahabat-Nya. Henokh bergaul dengan Allah sampai ia diangkat oleh Allah. Ayub dikatakan seorang yang saleh di mata Allah, Abraham adalah sahabat Allah dan lain sebagainya.

Memang bila ditinjau dari standar kesucian Tuhan, maka kebaikan yang dicapai oleh manusia jauh dari standar tersebut. Oleh sebab itu standar hidup umat Perjanjian Lama, sesaleh apa pun tidak bisa menjadi standar hidup orang percaya yang harus sempurna seperti Bapa. Orang-orang saleh di Perjanjian Lama bisa menjadi umat Allah dan walau sebagian dari mereka bisa menjadi kekasih-kekasih dan sahabat Allah tetapi mereka tidak bisa menjadi umat Tuhan yang mencapai standar kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Kalau di dunia yang akan datang mereka diperkenankan masuk “surga”, maka mereka tidak akan menduduki pemerintahan bersama-sama dengan Kristus.1 Mereka hanya akan menjadi anggota masyarakat bersama dengan banyak orang dari segala suku bangsa atau menjadi sahabat Tuhan. Sesungguhnya di dunia mereka belum mencapai tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah.

Jika ditinjau dari Injil, manusia yang tidak mencapai standar tata laksana hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah adalah manusia yang dinilai gagal. Gagal di sini bukan berarti manusia menjadi biadab seperti hewan, tetapi manusia berkeadaan tidak menjadi persis seperti yang Allah Bapa kehendaki. Standar hidup yang benar atau tepat seperti yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan dalam ketaatan yang tidak bersyarat kepada Allah Bapa,2 penghormatan yang sempurna kepada Bapa dan kasih cinta-Nya yang sangat mendalam kepada Allah Bapa tanpa batas. Kurang dari standar hidup tersebut berarti manusia gagal menjadi corpus delicti. Gagal menjadi corpus delicti maksudnya tidak bisa membuktikan bahwa Iblis bersalah.

Sebenarnya Iblis sebagai makhluk ciptaan dirancang untuk hidup dalam tata laksana kehidupan dengan standar Allah, tetapi Iblis membuat tata laksana kehidupan sendiri. Itu adalah pemberontakan. Tuhan Yesus memperagakan kehidupan dalam tata laksana sesuai standar Allah. Seharusnya Iblis bersikap seperti yang Tuhan Yesus peragakan. Tetapi Iblis memilih jalannya sendiri. Tetapi Iblis tidak dapat dihukum sebelum dibuktikan kesalahannya. Pembuktiannya adalah bila ada pribadi yang menunjukkan bagaimana seharusnya makhluk ciptaan hidup di hadapan Allah Bapa sebagai Penciptanya. Manusia (Adam) yang seharusnya bisa membuktikan kesalahan Iblis telah gagal, karena manusia tidak menampilkan tata laksana kehidupan yang Allah Bapa inginkan. Manusia pertama gagal mencapai target tersebut. Kerusakan tersebut menempatkan manusia sebagai makhluk yang gagal memuaskan hati Bapa, walaupun manusia masih bisa memiliki moral yang baik tidak seperti hewan. Manusia mengecewakan Allah karena tidak memuaskan keinginan-Nya. Kehidupan yang dimiliki manusia menjadi tidak ideal. Tuhan Yesus sebagai Adam terakhir memperagakan tata laksana kehidupan yang benar.

1) Roma 8:17 ; 2) Filipi 2:7-10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.