3. REALITAS YANG MENGGETARKAN

Salah satu penyebab mengapa banyak orang ceroboh dalam mengisi hidupnya di bumi ini sebab mereka tidak menyadari dan tidak menghayati bahwa manusia adalah makhluk kekal. Sesungguhnya kematian tubuh tidak menghilangkan kesadaran manusia. Para penganut skeptisisme menolak adanya realitas kekekalan ini, karena mereka menganggap bahwa hal ini adalah mitos yang lahir dari agama-agama dan kepercayaan kuno. Kelompok agnotisisme menolak adanya realitas kekekalan karena menurut mereka hal ini tidak dapat dibuktikan secara sains. Dan segala sesuatu yang tidak dibuktikan secara sains adalah nonsense (omong kosong). Sebagian ilmuwan juga menolak realitas kekekalan ini, sebab menurut mereka kematian mengakibatkan rusaknya fungsi otak. Ini berarti menurut mereka manusia tidak lagi berkemampuan untuk berpikir, sehingga bagi mereka setelah mati tidak lagi ada kesadaran.

Hal tersebut menurut mereka membuktikan bahwa tidak ada kehidupan di balik kematian. Persepsi manusia yang tidak mengenal kebenaran ini tidak dapat dipercayai. Patut dipertimbangkan bahwa hidup ini penuh dengan misteri, bukan hanya yang tidak kelihatan, yang kelihatan pun penuh rahasia yang mengagumkan. Kekekalan adalah misteri kehidupan yang harus dipercayai, sebab Tuhan yang mengatakannya.

Realitas kekekalan inilah yang seharusnya membuat manusia menjadi gentar menghadapi hidup ini. Kegentaran yang mendorong manusia berlindung kepada Tuhan. Kegentaran tersebut berangkat dari kesadaran bahwa pertaruhan hidup ini sangat mahal. Kalau orang main judi dengan taruhan kecil maka permainan itu tidak beresiko, tetapi kalau taruhannya tinggi maka sebuah permainan yang sangat beresiko. Hidup ini memuat pertaruhan yang sangat tinggi, yaitu kekekalan, surga kekal atau neraka kekal. Hal ini sungguh-sungguh menggetarkan. Tuhan mengajar orang percaya untuk memiliki kegentaran terhadap kenyataan ini; kenyataan adanya kebinasaan, supaya sejak hidup di bumi sudah mempersiapkan diri menghadapi kekekalan sedini mungkin.

Tuhan Yesus berkata: Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Kata membinasakan dalam ayat ini adalah apollumi (ἀπόλλυμι) yang artinya to destroy fully.

Manusia memiliki unsur kekekalan yang dari Allah (Kej. 2:7). Karena Tuhan adalah kekal, maka manusia yang diciptakan segambar dengan diri-Nya untuk berkeberadaan yang sama juga. Ketika manusia diciptakan, Tuhan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya. Nafas yang dihembuskan Allah kepada manusia adalah unsur kekekalan dalam diri manusia sehingga manusia berkeadaan sebagai makhluk yang kekal. Tidak ada sesuatu yang lebih dahsyat dalam kehidupan ini lebih dari fakta kekekalan tersebut.

Karena fakta ini maka Tuhan Yesus berkata dalam Matius 16:26: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya”. Nyawa dalam teks aslinya adalah psuke (ψυχή), yang sama artinya dengan jiwa. Inilah tselem manusia. Dalam jiwa ada pikiran, perasaan dan kehendak. Kebinasaan dalam teks ini maksudnya adalah bahwa keterpisahan dari Tuhan juga mengakibatkan manusia tidak dapat menikmati dan mengembangkan pikiran, perasaan dan kehendaknya baik di bumi ini maupun di kekekalan (langit baru dan bumi yang baru). Jiwanya dibelenggu oleh iblis dalam penderitaan abadi.

Mati bukanlah seperti orang tidur. Setelah mengalami kematian secara jasmani, manusia tetap memiliki dan mengalami kesadaran kekal. Dalam hal ini manusia diperhadapkan kepada realitas yaitu sengsara kekal atau bahagia kekal (Dan. 12:2; Why. 20:13-15). Oleh karena itu harus dimengerti bila satu jiwa bertobat maka malaikat di Surga bersukacita (Luk. 15:7). Dengan keberadaannya sebagai makhluk kekal, manusia harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan-keputusannya. Kehidupan ini benar-benar sebuah keadaan yang berisiko tinggi, sebab manusia diperhadapkan kepada surga kekal atau neraka kekal. Dengan kesadaran terhadap fakta ini, maka seseorang harus lebih berhati-hati dalam mengarungi lautan kehidupan ini.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.