3. MENSAHKAN DIRI SEBAGAI ANAK ALLAH

BERBICARA MENGENAI anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12. Bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Kuasa itu dari teks aslinya exousia (ἐξουσία) yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia.1 Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah menjadi anak Allah. Menjadi anak Allah berarti berkarakter seperti Allah; Like father like son. Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi serupa dengan Bapa.2 Tentu saja orang yang tidak memiliki karakter seperti bapa tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak Allah adalah ketika seseorang memiliki karakter Bapa. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak sembarangan menunjuk seseorang sudah menjadi anak Allah.

Jadi, pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah tidak mau dihajar dan diajar Bapa.3 Dalam hal ini respon seseorang terhadap keselamatan yang Tuhan berikan sangat penting artinya. Tanpa respon, seseorang tidak akan menjadi anak Allah yang sah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah melalui pintu yang sesak”.4 Paulus juga berkata: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”.5 Semua itu tidak boleh diperhitungkan sebagai jasa seolah-olah seseorang bisa menjadi anak Allah sebagai hasil usahanya. Usaha manusia bagaimana pun kerasnya, tidak bisa menyelamatkan dirinya tanpa salib Kristus, jadi usaha untuk disahkan sebagai anak Allah hanyalah respon terhadap keselamatan yang Tuhan sediakan. Ini adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh setiap orang Kristen.

Alkitab menulis bahwa semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.6 Kata menerima di dalam teks ini, bahasa aslinya adalah elabon (ἔλαβον) dari akar kata lambano (λαμβάνω) yang selain berarti menerima (to accept), juga berarti to get hold of (berpegang tetap). Kata ini bisa menimbulkan berbagai penafsiran. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau mulutnya sudah mengaku Yesus adalah Tuhan dan hatinya merasa percaya, berarti ia sudah menerima Dia. Kemudian ia merasa bahwa dirinya sudah selamat. Ini tidak benar. Pertanyaan yang patut dilontarkan adalah apakah Tuhan Yesus sudah merasa dan mengakui bahwa orang tersebut telah menerima Dia? Ingat, banyak orang merasa sudah mengenal Tuhan Yesus dan merasa pasti diterima oleh Dia, ternyata ditolak.7

Hendaknya kita tidak menyederhanakan kata “menerima” dalam Yohanes 1:12 ini. Sebagai ilustrasi, apakah kalau seorang mempelai wanita berkata kepada mempelai pria: Aku menerima engkau sebagai suamiku, berarti wanita itu telah menerima suaminya? Apakah janji nikah dalam lima detik menjadi ukuran penerimaannya? Tentu tidak, tetapi tahun-tahun panjang dalam hidupnya akan membuktikan apakah wanita itu menerima pria tersebut sebagai suaminya secara benar atau sebaliknya. Demikian pula ketika seseorang dalam suatu kebaktian kebangunan rohani atau dalam pelayanan pribadi menyatakan bahwa ia mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Hal ini bukan berarti bahwa ia telah menerima Tuhan Yesus dengan benar. Perjalanan kekristenannya yang akan menentukan.

1) Ibrani 12:9 ; 2) Kejadian 2:7 ; 3)Yakobus 4:5 ; 4) Pengkotbah 12:7 ; 5) Yakobus 4:1-4; 6) Roma 3:23 ; 7) Kejadian 4:7 ; 8) Kejadian 6:1-2; 9)Kejadian 6:2 ; 10)Yohanes 1:11-13

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.