3. Kehadiran Bapa

WALAUPUN ROH KUDUS disebut sebagai Roh Allah tetapi bagaimanapun Roh Kudus tidak sama dengan Pribadi Bapa dan Pribadi Anak. Mengapa? Sebab Roh Kudus adalah perwakilan dari lembaga Allah (Elohim) yang esa yang di dalamnya terdapat pribadi Bapa dan Anak. Oleh sebab itu orang percaya harus menanggapi, menerima dan memperlakukan Roh Kudus sebagai Pribadi yang hidup dan menghormati-Nya, sebagaimana kita menghormati Allah Bapa dan Allah Anak. Seseorang yang tidak menghormati Roh Kudus berarti sama dengan tidak menghormati Allah Bapa dan Allah Anak. Oleh sebab itu orang percaya setiap kali berurusan dengan Roh Kudus harus melandasi diri dengan pemahaman bahwa dirinya sedang berurusan dengan Allah Bapa dan Allah Anak sendiri. Sebaliknya, setiap kali berurusan dengan Allah Bapa dan Allah Anak, orang percaya harus menghayati bahwa Allah hadir melalui atau di dalam Roh Kudus. Tegasnya, Roh Kudus adalah representasi lembaga Allah (Elohim) yang esa. Dengan penjelasan ini maka keberadaan Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus mudah dipahami oleh pikiran manusia. Sehingga ilustrasi-ilustrasi yang diciptakan untuk menjelaskan keberadaan Allah Tritunggal tidak dibutuhkan lagi sebab justru semakin mengacaukan kebenaran mengenai Allah Tritunggal tersebut.

Dalam sepanjang Alkitab dapat ditemukan relasi Allah Bapa dan Anak sebagai pribadi yang bisa terpisah. Klimaksnya adalah ketika Tuhan Yesus menjadi manusia.1 Tuhan Yesus benar-benar terpisah dari Allah Bapa dan menjadi manusia yang memiliki resiko terpisah untuk selamanya. Tuhan Yesus sendiri di atas salib juga menyatakan bahwa Bapa meninggalkan diri-Nya.2 Perpisahan pribadi dengan Bapa ini membuka kemungkinan Tuhan Yesus memiliki kehendak yang berbeda dengan Bapa. Hal ini sangat berbeda dengan hubungan Roh Kudus dengan Bapa. Tidak pernah Roh Kudus atau Roh Allah bergerak tanpa melakukan apa yang Allah Bapa inginkan. Roh Kudus tidak pernah berdiri sendiri. Roh Kudus hanya melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Dalam Perjanjian Baru, Ia menjadi utusan Bapa dan Tuhan Yesus. Sejatinya, Roh Kudus adalah kuasa dari Allah yang berpribadi yang melingkupi jagad raya. Oleh karena tidak kelihatan seperti angin, maka disebut sebagai Roh (Ibr. ruakh; רוּחַ ). Tidak ada tempat yang tidak dalam lingkupan Roh Kudus.3 Itulah sebabnya Allah disebut sebagai Maha Hadir. Namun perlu dicatat di sini, bahwa kehadiran Allah melalui Roh Kudus bukan berarti kehadiran Pribadi Bapa dan Allah Anak Yang Maha Kudus, sebab Bapa dan Allah Anak selalu bersemayam di surga.4

Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajar mengucapkan kalimat: “Bapa kami yang di surga”. Ini menunjukkan bahwa Pribadi Bapa tidak ada di mana-mana, Ia ada di surga. Tetapi kehadiran-Nya ada di mana-mana melalui Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus selain merupakan representasi dari Allah Bapa, juga representasi dari Allah Anak, setelah Allah Anak kembali ke tempat semula -yaitu setelah kebangkitan-Nya; duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dalam hal ini Roh Kudus sebagai fasilitas milik Allah Bapa dan Allah Anak yang melingkupi jagad raya. Sebenarnya dengan keberadaan Pribadi Allah Bapa dan Allah Anak di surga dan Roh Kudus melingkupi jagad raya melaksanakan kehendak dan rencana-Nya, hal ini menunjukkan keunggulan atau supremasi Allah dibanding berbagai dewa-dewa yang “mengembara” dan “bergelandangan” di banyak tempat lain. Bagaimanapun ada takhta Allah yang berbeda tempat dan tingkatan dengan makhluk ciptaan. Jadi kalau Tuhan Yesus mengajarkan kita memanggil dengan sebutan “Bapa di surga”, hal itu adalah untuk membedakan Bapa yang benar yaitu yang di Surga dari banyak bapa yang tidak ada di surga. Bapa adalah pribadi yang memiliki tempat tertentu yang permanen. Kalau Bapa memiliki takhta, maka Ia berkuasa memerintah dan berdaulat atas semesta alam tiada batas ini. Dialah Bapa yang memiliki segala kuasa, kemuliaan kekal sampai selama-lamanya.

1) Filipi 2:5-7 ; 2) Markus 15:34 ; 3) Mazmur 139:5-9 ; 4) Mazmur 2:4; 14:2; 33:13; 53:3;
1-3:19 dan banyak lagi

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.