3. Kebangunan Rohani Setiap Hari

DALAM MASA-MASA TERTENTU Tuhan mengingatkan jemaat- Nya dengan lawatan-lawatan khusus-Nya. Secara komunitas gereja, ketika gereja mengalami kesuaman bahkan gereja telah keluar dari rel-Nya, Tuhan mengutus Martin Luther dan tokoh-tokoh reformasi lainnya untuk memperbaharui gereja-Nya pada abad 15. Sejak reformasi tersebut gereja memperoleh angin baru untuk membawa gereja-Nya kembali ke jalan dan Injil yang benar. Tetapi beberapa abad kemudian gereja-gereja Protestan sudah melembaga menjadi gereja yang dirasakan oleh umat tidak menjawab kebutuhan umat. Berkali-kali Tuhan mengadakan pembaharuan gereja seperti yang dilakukan melalui dua hamba-Nya yaitu John dan Charles Wesley di abad ke-18 di Inggris, gerakan Pentakosta yang di mulai di Azusa Street di Los Ange­les California di awal abad 20 oleh William J. Seymour dan teman-te­mannya. Pada saat gereja suam atau menyimpang dari jalan kebenaran, Tuhan akan membangkitkan suatu kegerakan guna mengembalikan gereja-Nya pada jalan yang benar atau Injil yang murni.

Apakah lawatan-lawatan seperti yang disinggung di atas harus terjadi terus? Tentu tidak. Menjelang kedatangan Tuhan, dimana kejahatan bertambah-tambah, dibutuhkan lebih dari beberapa peristiwa yang membangunkan gereja-Nya. Gereja harus terus menerus dalam suasana kebangunan rohani dengan militansi yang tinggi untuk mempersiapkan jemaat menghadapi pengaruh dunia yang jahat sehingga spirit jemaat selalu dalam keadaan bernyala-nyala. Kita tidak lagi menantikan peristiwa Azusa Street terjadi, kita sendiri yang harus menciptakan kebangunan rohani seperti itu setiap hari oleh pertolongan Roh Kudus. Kita tidak lagi menantikan orang-orang hebat seperti John dan Charles Wesley, tetapi kita semua harus bangkit menjadi orang-orang hebat seperti mereka di zaman akhir ini. Di akhir zaman ini Tuhan akan memurnikan orang percaya menjadi orang-orang yang luar biasa atau manusia unggul bagi Tuhan.1 Walau tentu jumlahnya sangat sedikit.

Gereja tidak boleh sibuk dengan urusan-urusan organisasi, seremonial dan lain sebagainya sehingga gereja mengalami kesuaman. Kesuaman di sini artinya jemaat-jemaat di dalam gereja tidak dalam keadaan prima berkenan di hadapan Tuhan. Fokus jemaat harus terus menerus tertuju kepada kehidupan yang sempurna. Oleh sebab itu gereja tidak perlu lagi menantikan lawatan-lawatan Tuhan, sebab lawatan Tuhan sudah disediakan, orang percaya yang harus menghampirinya. Kebangunan rohani tidak cukup hanya terjadi satu atau dua kali dalam setahun. Tetapi kebangunan rohani harus berlangsung setiap hari melalui berbagai kegiatan gereja dan pelayanan. Kalau kegiatan gereja tidak membawa kebangunan rohani maka harus dipertanyakan kegiatan macam apa itu. Gereja yang tidak membangun rohani jemaat guna mempersiapakan jemaat menjadi umat yang layak bagi Tuahan melalui seluruh kegiatannya, tidak layak mengaku sebagai gereja Tuhan.

Dapat dijumpai dalam banyak gereja hari ini, dimana mereka mengadakan kebaktian kebangunan rohani, kebaktian penyegaran iman atau apa pun namanya yang bertujuan untuk membangun rohani jemaat. Biasanya yang diundang adalah pendeta-pendeta luar bukan pendeta setempat. Terkesan bahwa yang bisa membangunkan rohani jemaat bukanlah pendeta dari gereja lokal tetapi pendeta luar. Ini suatu kebodohan. Yang seharusnya menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk membangunkan rohani jemaat adalah pendeta atau hamba Tuhan gereja lokal, dimana melalui segala kegiatan gereja (Pendalamn Alkitab, kebaktian doa, kebaktian umum hari Minggu dan lain sebagainya) menjadi sarana kebangunan rohani bagi jemaat. Untuk ini para hamba Tuhan harus terus menerus mengalami kebangunan rohani terlebih dahulu agar dapat menularkannya kepada jemaat. Bagaimana pun kualitas rohani jemaat sangat ditentukan oleh para pelayan gereja

1) Daniel 12:10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.