3 Desember 2014: Keterikatan Yang Abadi

Keterikatan dengan Tuhan haruslah keterikatan yang permanen. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya dalam segala keadaan, di segala tempat dan waktu ada dalam keterikatan dengan Tuhan. Jadi, tidak ada tempat dan waktu dimana orang percaya tidak melekat dengan Tuhan. Akhirnya keterikatan ini menjadi keterikatan abadi. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai “covenant” (perjanjian) antara umat dan Allah. Dalam Perjanjian Lama disebut sebagai beriyth ( בּרְִית ). Kata ini sangat penting dalam menunjukkan hubungan antara Yahwe dan Israel umat pilihan-Nya. Kata yang sejajar dengan itu dalam teks Yunaninya adalah diatheke (διαθήκη). Orang percaya tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja, demikian pula hendaknya kita tidak merasa tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Untuk tidak terikat dengan dunia, seseorang tidak harus meninggalkan kesibukan di luar gereja sebagai pengusaha, tenaga medis, praktisi hukum, politisi dan lain sebagainya. Ada orang-orang yang beranggapan bahwa untuk bisa hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, maka harus meninggalkan pekerjaan sekuler, setiap hari rajin datang kebaktian, supaya lebih lengkap sempurna lagi maka ia menjadi fulltimer gereja; menjadi pendeta. Ini konsep salah yang mirip dengan keyakinan banyak agama. Dimana untuk menjadi orang saleh dan benar harus meninggalkan kesibukan dunia, menyingkir ke tempat sunyi agar bisa bersatu dengan Tuhan. Lalu mereka merasa diri sebagai orang yang lebih suci dibandingkan dengan orang-orang yang sibuk dalam kegiatan di luar gereja Justru ketika seseorang bergulat dalam segala pergumulan hidup di dunia, ia dapat membuktikan cinta dan kesetiaannya kepada Tuhan atau membuktikan kesalehannya yang sejati. Sama seperti seseorang bisa dikatakan sebagai perenang hebat jika bukan hanya mampu berenang di kolam renang tetapi di tengah gelombang lautan. Seorang suami dapat terbukti sebagai suami yang setia kalau memiliki kesempatan memindahkan hatinya kepada banyak wanita cantik tetapi tetap memilih pasangannya sendiri. Demikian pula seseorang dapat membuktikan bahwa dirinya mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, jika memiliki kesempatan besar untuk dapat meraih kenikmatan dunia, gelar, kekuasaan, nama besar, nama baik yang dapat diraihnya, tetapi ia tetap memilih Tuhan. Dari hal ini maka teruji kecintaan seseorang terhadap Tuhannya. Tuhan memberi peluang orang percaya untuk memiliki dunia dengan segala kesenangannya, tetapi orang percaya yang setia akan berusaha untuk memilih terikat dengan Tuhan. Dalam Lukas 17, Tuhan Yesus mengutip kisah Lot. Ia mengingatkan agar orang percaya jangan gagal menyambut karya keselamatan-Nya oleh karena mencintai dunia. Lot tidak menoleh ke belakang sekalipun ia kehilangan semua hartanya di Sodom. Lot melakukan dengan setia, tetapi istri Lot tidak. Dalam hal ini sebagai orang pilihan kita harus berani barter; meninggalkan dunia untuk memperoleh Kerajan Surga. Kita harus berani melakukan tindakan barter seperti orang-orang yang dikemukakan dalam perumpamaan dalam Matius 13:44-46. Barter adalah masalah hati, atau batin. Apakah hati kita sungguh-sungguh tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini atau masih berharap memperoleh kebahagiaan dari berbagai fasilitas yang ada di bumi ini. Jika seseorang masih mengharapkan dapat memperoleh kebahagiaan dari dunia ini berarti tidak mengikatkan diri dengan Tuhan. Tetapi kalau seseorang berani meninggalkan kesenangan dunia, sebab ia hanya mau menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka ia membangun tali ikatan abadi dengan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.