3. Buah Harafiah Dan Buah Figuratif

DALAM TAMAN EDEN ada 2 jenis buah antara lain: pertama buah untuk dimakan secara fisik guna pemenuhan butuhan jasmani, kedua buah yang dikonsumsi oleh pikiran atau jiwa, yaitu buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat dan buah dari pohon kehidupan.1 Jumlah pohon buah-buahan yang dapat dimakan secara fisik bisa puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan jenis, tetapi tidak perlu disebutkan namanya. Mereka dikelompokkan pada buah yang dimakan untuk kebutuhan jasmani. Tetapi dua buah yang terletak di tengah taman tersebut perlu disebutkan namanya, sebab jenisnya berbeda dari buah secara harafiah. Pohon yang ada di tengah taman adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Ing. the tree of knowledge of good and evil; Ibr. woets hadaath tov wora: ועְֵ֕ץ הדַַּעַ֖ת ט֥וֹב וָרָֽע ), yang kedua adalah pohon kehidupan. (Ing. the tree of life; Ibr. woets hakhayim; ( ועֵ֤ץ הַֽחַיִּים).

Buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat bukanlah buah yang dikonsumsi untuk fisik, tetapi sebenarnya buah dalam arti figuratif (gambaran saja) yaitu menunjuk pengaruh jahat Lusifer yang jatuh (ular). Kalau kisah Adam dan Hawa tidak dipahami secara benar, maka kisah Adam dan Hawa adalah dongeng yang berunsur mitos dalam pengertian umum. Bagaimana mungkin makan buah bisa mengakibatkan pikirannya terbuka?2 Logisnya kalau makan buah tentu perut yang menjadi kenyang bukan pikirannya yang berubah atau terbuka. Dalam hal jelas sekali, bahwa buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat menunjuk filosofi yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan yang dikonsumsi oleh pikiran. Nama buah itu sendiri sudah mengisyaratkan sesuatu atau mengandung pesan. Kenapa tidak disebut misalnya buah mangga, apel atau rambutan? Mengapa namanya begitu panjang? Sebagai perbandingan, seandainya ada buah yang dinamai “bangun terlampau pagi masih mengantuk”, pasti ini maksudnya kurang tidur. Demikian pula mengenai pohon pengetahuan yang baik dan jahat bisa berarti buah yang membuat pikiran terbuka terhadap kejahatan yaitu pemberontakan kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Lucifer.

Harus selalu diingat bahwa yang masuk ke dalam jiwa menentukan kualitas nurani dalam neshamahnya. Dalam hal ini manusia diperhadapkan pada pilihan, apakah mengisi pikirannya dengan kebenaran sehingga nurani dalam neshamahnya menjadi baik artinya mengerti kehendak Allah, atau makan buah yang dilarang Tuhan sehingga nurani dalam neshamahnya menjadi rusak. Kerusakan nurani dalam neshamah mengakibatkan manusia tidak bisa mencapai kesucian Allah. Gambar Allah tidak terwujud dalam kehidupannya sehingga manusia dinyatakan kehilangan kemuliaan Allah. Buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat yang dikonsumsi membangun pola berpikir yang tidak sesuai dengan pola berpikirnya Tuhan. Tentu saja penyesatan pikiran bisa terjadi melalui suatu proses panjang, demikian pula dengan proses kejatuhan Adam. Seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam suratnya bahwa dirinya takut kalau-kalau pikiran orang percaya disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus sama seperti Hawa diperdaya oleh ular.3 Pikiran manusia disesatkan dalam perjalanan waktu sampai pada level tidak bisa diarahkan lagi untuk mengerti kehendak Allah. Tulisan Paulus ini membuka rahasia mengenai fragmen di taman Eden, bahwa sejatinya pergumulan manusia pertama adalah pergumulan mengisi jiwanya (pikiran) dalam perjalanan waktu panjang, bukan hanya langkah yang salah dalam satu kali kesempatan. Oleh akumulasi masuknya berbagai filosofi yang salah dalam jiwa merusak nurani dalam neshamahnya. Hal ini juga berarti merusak neshamahnya. Orang yang neshamahnya rusak sehingga tidak bisa berjalan seirama dengan Tuhan akan dibuang ke dalam api kekal.

1)Kejadian 2:9; 2)Kejadian 3:7; 3) 2Korintus 11:2-4;

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.