3. Api Dari Tuhan

SERING KITA MENDENGAR agar kita melayani dengan hati, sehingga kalimat “melayani dengan hati” menjadi kalimat populer di kalangan orang Kristen. Perlu kita persoalkan adalah melayani dengan hati siapa? Hati kita sendiri atau hati Tuhan? Kalau hati merupakan representative dari perasaan, maka kita harus melayani dengan perasaan. Masalahnya, dengan perasaan siapa? Perasaan kita sendiri atau perasaaan Kristus? Firman Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita memiliki perasaan Kristus.1 Ini berarti compassion yang ada pada kita haruslah compassion yang juga ada pada Tuhan Yesus Kristus. Api dari compassion ini haruslah api yang asli dari Tuhan; bukan api asing. Tidak sedikit orang Kristen yang mengambil bagian dalam pelayanan dengan gairah yang tidak sama dengan gairah Tuhan. Bagaimana hal ini bisa terjadi dalam kehidupan seseorang? Bagaimana kita dapat memiliki compassion yang benar?

Hal utama untuk dapat memiliki compassion seperti yang dimiliki Tuhan adalah kita harus memiliki pikiran Allah. Untuk miliki pikiran Allah kita harus memahami rencana penyelamatan dunia ini. Untuk memahami penyelamatan dunia ini kita harus mengerti Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Firman Tuhan di sini menyangkut: siapa Allah, mengapa Ia menciptakan manusia, siapa dan bagaimana manusia itu, dan mengapa manusia jatuh dalam dosa, bagaimana penyelesaian atas kejatuhan manusia, apakah keselamatan itu, bagaimana proses keselamatan dalam kehidupan orang percaya, apa tugas orang yang sudah diselamatkan dan lain sebagainya. Rencana penyelamatan dunia nampak dari sejarah Kerajaan Allah, sejak zaman Abraham sampai pada kitab Wahyu. Pikiran Allah nampak nyata dari karya dan semua tindakan-Nya. Kalau seseorang tidak mengerti rencana dan tindakan Allah, maka ia tidak akan dapat mengerti dan memiliki pikiran-Nya. Dalam hal ini kita memahami betapa pentingnya memahami kebenaran Alkitab secara benar dan memadai. Iblis telah berhasil menyimpangkan pikiran orang percaya dari belajar Firman Tuhan secara benar dengan hal-hal yang tidak prinsip dalam hidup kekristenannya.

Semua kebenaran yang diterima seseorang dalam taraf yang memadai akan membangun pola berpikir. Pola berpikir akan membangun api compassion yang benar atau murni. Kalau pemahamannya salah, maka api compassion-nya juga salah atau asing. Misalnya, kalau orang memahami bahwa manusia hidup untuk menikmati dunia ini, dan berkat Tuhan adalah hidup di dunia ini dengan berlimpah materi dan hidup tanpa masalah, maka yang diusahakan dalam hidup ini hanyalah hal-hal tersebut. Kalau ia seorang pelayan Tuhan maka yang diusa­hakan dalam pelayanan hanyalah hal-hal tersebut. Pelayanannya adalah berdoa untuk masalah-masalah jasman dan menghadirkan mukjizat untuk pemenuhan kebutuhan jasmani.

Kalau sekarang kita mendengar seruan agar kita belajar Firman Tuhan, hal itu dimaksudkan agar kita memiliki api compassion yang benar. Memiliki motivasi yang benar dalam hidup ini dan dalam pengabdian kepada Tuhan atau dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Jadi, kalau sekarang kita melihat banyak orang sibuk dengan pelayanan pekerjaan Tuhan, hendaknya kita tidak terkecoh seolah-olah mereka memiliki api compassion yang benar. Gairah yang menyala-nyala belum tentu dari api yang benar. Api yang benar dapat terbangun hanya oleh pengertiannya terhadap kebenaran yang murni. Perhatikan apa yang diajarkan mereka. Kalau ajaran mereka tidak sesuai dengan ajaran murni Tuhan Yesus, pasti api mereka bukanlah api yang murni pula.2 Ciri dari api asing adalah tidak membuat seseorang berusaha mencapai kesempurnaan atau kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, tetapi selalu berbicara sekitar kemakmuran jasmani. Api yang salah tersebut adalah api materialisme yang memang lebih digemari dari pada kebenaran murni, yang harus dimiliki orang percaya. Api yang benar membangkitkan kecintaan kepada Tuhan dan sesama dengan tulus.

1) Filipi 2:5-7 ; 2) Galatia 1:6-10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.