29. Tanpa Apa Pun Dan Siapa Pun

SIKAP MENINGGIKAN DAN menyanjung Tuhan adalah menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Apakah kebahagiaan itu? Biasanya orang memahami kebahagiaan sebagai perasaan senang, sukacita karena keadaan nyaman, tidak ada ancaman atau karena keinginannya dipuaskan. Dalam hal ini kebahagiaan sangat ditentukan oleh filosofi hidup, yaitu bagaimana seseorang memandang hidup. Kalau misalnya menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah uang atau harta. Maka harta atau uang menjadi yang paling berharga dan bernilai tinggi. Pasti andalan orang tersebut adalah uang atau harta. Dari penjelasan di atas sudah sangat jelas bahwa kebahagiaan seseorang bersifat sangat relatif, artinya tergantung apa yang dipandang berharga atau bernilai.

Dunia mengkondisi manusia untuk merasakan betapa hebat kekuatan materi yang nyata dapat menjadi sumber kebahagiaan hampir semua orang. Banyak orang diarahkan untuk menjadikan materi sebagai sumber kebahagiaannya sehingga mereka sesungguhnya meninggikan dan menyanjung uang. Dengan uang orang dapat meraih apa saja yang diinginkan dan dicita-citakan. Tanpa memiliki sejumlah uang sesuai dengan ukuran “banyak” menurut mereka, maka hidup mereka belumlah merasa bahagia. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah dapat meninggikan dan menyanjung Tuhan. Kalau pun mereka ke gereja menyanyikan lagu-lagu gereja yang memuat kalimat-kalimat yang meninggikan dan menyanjung Tuhan, sesungguhnya itu munafik.

Hampir tidak ada orang yang berani hidup tanpa memperoleh kebahagiaan dari dunia ini. Bagaimanapun dan dengan cara apa pun pada umumnya orang akan berusaha memperoleh sesuatu yang bisa dinikmati dalam hidup ini dari dunia dan manusia sekitarnya. Pada umumnya, uanglah yang dianggap sebagai sarana untuk meraih apa pun yang dapat memberi kebahagiaan. Hal ini sudah menjadi kodrat yang tidak bisa disangkal dan tidak bisa dihindari melekat dalam kehidupan setiap insan. Orang yang terbawa arus dunia adalah orang-orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan di dalam Tuhan. Orang yang terbawa arus dunia hanya bisa sukacita oleh topangan fasilitas materi dunia ini. Cita rasa jiwa mereka hanya terarah kepada kekayaan dunia atau uang, bukan pada Tuhan dan perkara-perkara rohani. Kalau pun mereka ke gereja dan mempercakapannya mengenai damai sejahtera Tuhan, hal itu hanya sebatas bibir dan menjadi pengetahuan, bukan sebuah pengalaman riil setiap hari.

Kebahagiaan dalam Tuhan atau damai sejahtera Tuhan bukan sekadar pokok pikiran atau semacam pengetahuan yang hanya didiskusikan. Juga bukan sekadar fantasi dan ledakan emosi sesaat pada waktu dalam acara kebaktian (khususnya pada gereja yang menekan spontanitas dalam kebaktian, ledakan emosi dan pengalaman mistis). Damai sejahtera Tuhan bersifat permanen dan riil yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang mengerti bagaimana menikmati damai sejahtera tersebut. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa damai sejahtera-Nya diberikan kepada orang percaya.1 Ini harus sesuatu yang menjadi bagian hidup integral yang tidak terpisahkan dari hidup orang percaya setiap hari. Untuk menikmati damai sejahtera ini perlu perjuangan, latihan dan pengalaman riil berjalan dengan Tuhan. Perjuangan itu adalah mengubah selera duniawi menjadi selera rohani. Abraham adalah contoh pribadi yang rela melepaskan apa yang dianggapnya paling bisa membahagiakan, yaitu Ishak.2 Ketika Tuhan menguji Abraham, agar Abraham menyembelih anaknya sendiri, ia melakukannya tanpa ragu-ragu. Hal itu menunjukkan bahwa kebahagiaan hidupnya hanyalah Tuhan. Tindakan Abraham sangat mengagumkan, baginya Tuhan lebih berarti dari anak tunggalnya tersebut. Juga Paulus ketika harus melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah.3 Hal itu menunjukkan bahwa kebahagiaan Paulus adalah Tuhan. Tidak heran kalau Paulus, sekali pun ia tidak menikah, ia tidak merasa kurang bahagia.

1) Yohanes 14:27 ; 2) Kejadian 22:1-10 ; 3) Filipi 3:7-8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.