29 September 2014: Perjuangan Hidup Yang Benar

Orang yang menyatakan mengikut Tuhan Yesus harus berani mengenakan gaya hidup yang berbeda dengan cara hidup yang dimiliki orang pada umumnya, yaitu cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita agar kita dapat ditebus atau dimerdekakan dari cara hidup tersebut (1Ptr. 1:17-18). Semua kegiatan hidup harus didasarkan pada satu tujuan yaitu menyelenggarakan hidup bergaya hidup Tuhan Yesus termasuk di dalamnya menyelamatkan jiwa-jiwa. Keselamatan jiwa-jiwa adalah bagaimana membawa orang menjadi manusia Allah juga yang berkualitas corpus delicti. Orang-orang yang memiliki tujuan hidup ini sama dengan orang yang kehilangan nyawa (psuke). Pikiran, perasaan dan kehendaknya sepenuhnya diarahkan pada kepentingan Kerajaan Surga. Prinsipnya seperti Tuhan Yesus bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya (Yoh. 4:34). Hidup ini bagi Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Ia menyadari bahwa kalau Kristus telah mati untuk dirinya maka ia merasa sudah mati. Sekarang kalau ia hidup, ia hidup untuk Tuhan Yesus yang telah mati bagi dirinya (2Kor. 14-15). Inilah kehidupan yang dipersembahkan bagi Tuhan sepenuhnya atau tanpa batas. Tidak heran kalau orang-orang seperti ini bisa berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi“diriku” tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaku.”

Bagi orang percaya yang benar, hidup ini adalah perjuangan untuk mewujudkan Kerajaan Allah dinyatakan. Perjuangan yang dilakukan ini menyita segenap hidupnya, sehingga segala sesuatu yang dilakukan, dilakukannya bagi kemuliaan Allah (1 Kor 10:31). Ini sesungguhnya hamba-hamba Tuhan yang sejati. Ukuran dalam penghakiman bagi orang percaya adalah harus sempurna seperti Bapa atau Tuhan Yesus. Jika tidak, berarti bukanlah orang yang pantas dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Oleh sebab itu kita harus berjuang dengan segenap hati jiwa dan kekuatan sampai kita mencapai kehidupan yang layak disebut anak Allah. Untuk ini harus terus membiasakan diri hidup dalam terang, yaitu selalu dalam kesadaran bahwa kita setiap saat bisa kembali kepada Bapa. Jika suatu saat kita harus kembali kepada Bapa, kita sudah bersedia mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Bapa. Dan diharapkan kita ditemui Tuhan berkenan di hadapan-Nya (2 Kor 5:9-10).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.