29 November 2014: Berjalan Seiring

Maksud tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan adalah untuk menjadi sekutu dan kekasih Tuhan. Hal ini dikalimatkan oleh Tuhan Yesus sebagai menyembah dan berbakti (Luk. 4:8). Dalam pernyataan Tuhan tersebut kita menemukan arti dan isi hidup yang benar. Akhirnya sebagai sekutu dan kekasih Tuhan, pikiran dan perjalanan hidup kita tertuju kepada Kerajaan-Nya. Kerajaan Tuhan menunjuk kepada tujuan akhir perjalanan hidup kita ini yaitu kemuliaan bersama dengan Yesus di Yerusalem Baru nanti (Mat. 6:19-21; Kol. 3:1-4; Mat. 6:33). Untuk bisa memahami hal ini kita harus benar-benar mengerti maksud hidup dalam Kebenaran-Nya. Kebenaran Tuhan menunjuk kepada isi Alkitab yang kita harus pahami dan kita kenakan dalam hidup. Seseorang yang menjadikan kebenaran Allah sebagai fokus hidupnya (orientasinya) tentu akan mempelajari Firman-Nya. Orang-orang seperti ini akan mengalami pembaharuan terus menerus dalam hidup ini (Rm. 12:2). Baginya Firman Tuhan lebih berarti dari segala hal.

Terkait dengan hal di atas ini, satu hal yang harus kita pahami, bahwa menjadi sekutu dan kekasih Tuhan tidak mengganggu sama sekali kegiatan hidup. Justru hal ini akan membuat kita dapat menggerakkan hidup ini dengan benar dan menikmati damai sejahtera Tuhan. Sementara kita menunaikan semua tugas, kita juga berusaha memindahkan hati ke dalam Kerajaan-Nya (Mat. 6:19-21). Untuk memindahkan hati ke dalam kerajaan-Nya kita harus memiliki skala berpikir yang benar-benar besar, lebih besar dari skala berpikir manusia pada umumnya. Maksudnya adalah kita berpikir seperti Tuhan berpikir. Untuk ini dibutuhkan pembaharuan pikiran terus menerus. Ini berarti untuk memiliki skala berpikir seperti Tuhan, kita harus bekerja keras belajar dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ternyata pengikut-pengikut awal Tuhan Yesus, seperti Petrus, Yohanes dan Yakubus walaupun sudah bersama Tuhan Yesus masih belum mengerti lengkap kebenaran Tuhan

Dalam satu kali kesempatan Tuhan Yesus berkata: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku” (Yoh. 8:43). Orang yang tidak menangkap bahasa Tuhan adalah orang yang tidak bisa diajak berbicara dengan Tuhan, sebab belum dapat mengerti pikiran Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita mengerti apa yang direncanakan dan dikehendaki-Nya sehingga kita bisa berjalan seiring dengan Tuhan. Sampai pada level ini, barulah kita dapat menjadi sekutu dan kekasih Tuhan yang harmoni.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.