29. MENCABUT NYAWA

Dunia di mana kita hidup hari ini adalah dunia di mana setiap orang memiliki hak yang harus dihargai. Berhubung manusia menjadi nihilistis dan materialistis, maka banyak orang -termasuk sebagian orang Kristen- tidak bersedia didominasi (dibawahi atau dikuasai) oleh siapapun termasuk oleh Tuhan sendiri. Padahal setelah seseorang ditebus oleh darah Yesus, maka ia harus menjadi hamba atau budak-Nya (Yun. doulos). Prinsip ini harus kita terima, bahwa segenap hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Seseorang menjadi budak siapa, Tuhan atau Iblis, tergantung masing-masing individu. Hal ini sangat ditentukan oleh apa yang mengisi pikirannya. Apakah pikiran kita diisi oleh hal-hal duniawi atau kebenaran Firman Tuhan, tergantung individu.

Paulus mengatakan bahwa Hawa diperdaya oleh ular dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus, karena pikirannya disesatkan (2Kor. 11:2-3). Kalau di zaman Eden Iblis memakai ular, maka di zaman sekarang ia memakai pembicara di mimbar yang tidak mengenal kebenaran untuk menyesatkan umat. Dalam hal ini kita mengerti mengapa untuk penyesat ini Paulus berani mengatakan tegas: terkutuklah mereka (Gal. 1:6-10). Perjuangan untuk menjadi budak Tuhan adalah perjuangan dalam mengisi pikiran dengan kebenaran.

Hidup manusia bergulir terus dan bergerak demi suatu cita-cita, rencana-rencana pribadi, keinginan-keinginan yang tidak pernah berhenti. Padahal semua yang diinginkan dari dunia ini akan lenyap seperti uap. Inilah penyesatan hebat yang sedang dilakukan oleh kuasa kegelapan. Keinginan daging (Yun.ephitumeo), keinginan mata dan keangkuhan (Yun. alazoniea) hidup bukan berasal dari Bapa. Tentu orang yang melakukan hal ini akan binasa (1Yoh. 2:15-17). Orang-orang seperti ini, pada masa hidupnya di dunia hanya digerakkan dari satu keinginan ke keinginan yang lain, tanpa sungguh-sungguh mau mengerti apa yang diingini Allah dalam hidupnya. Mereka tidak mengerti bagaimana melakukan kehendak Allah atau yang diingini Allah. Dengan demikian mereka menjadi budak dunia. Menjadi budak dunia artinya juga menjadi budak kuasa kegelapan atau budak Iblis.

Sebenarnya, keinginan-keinginan dalam pikiran manusia adalah belenggu manusia itu. Hal ini akan sangat sulit dilepaskan kalau sudah dibiarkan mengakar bertahun-tahun. Karena pikiran itulah yang menggerakkan hidup manusia. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Tuhan menghendaki kita mengalami pembaharuan pikiran dari hari ke hari. Tentu sejak muda atau sedini mungkin pembaharuan pikiran itu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar kita mengarahkan pikiran pada kehendak Bapa, supaya kita menjadi pelakunya. Inilah target yang dikehendaki Bapa untuk dapat kita capai. Tentu untuk target ini kita diberi kemampuan dan kemungkinan untuk dapat mencapainya. Inilah kabar baik. Ini adalah anugerah Tuhan yang tidak terbeli dengan uang.

Banyak pemberitaan khotbah di mimbar yang sebenarnya menggiring umat Tuhan untuk bersahabat dengan dunia (Yak. 4:4). Mereka tidak mengajar bagaimana membuang semua keinginan untuk berlabuh kepada Tuhan, tetapi malah merangsang umat mengingini harta dunia ini. Seakan-akan harta dunia dan keadaan hidup yang tidak bermasalah adalah perhentiannya. Dengan demikian, umat tidak diajar untuk mengerti dan mengalami perhentian di dalam Tuhan, tetapi perhentian dunia. Padahal untuk bisa menang melawan Iblis, seseorang harus masuk perhentian Tuhan (Mat. 11:28-29). Kata perhentian dalam teks ini adalah anapauso (Ingg. rest). Orang yang masuk perhentian Tuhan berarti mematikan keinginan daging (ephitumeo). Kalau seseorang masih memiliki banyak keinginan, maka mudahlah bagi Iblis unduk mengendalikannya.

Setiap orang yang berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan akan mengalami “sakit”nya ketika harus melakukan keinginan Bapa dan membunuh keinginannya sendiri. Proses membunuh keinginan dari sendiri ini dimulai dari hal-hal sederhana yang tidak sulit untuk dilepaskan. Tapi pada akhirnya ia harus melepaskan semua kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, yaitu kesenangan yang seharga dengan nyawa atau hidupnya. Itu adalah kesenangan-kesenangan yang tidak mudah bisa dilepaskan. Kalau jujur ia berpikir bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa kesenangan-kesenangan tersebut. Kesenangan itu bisa berupa kekayaan, kehormatan, kedudukan, kenikmatan makan minum atau pesta, libido seks, suatu hobi, perhiasan, model pakaian, dan lain sebagainya. Kesenangan yang paling dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan adalah hidup wajar seperti manusia lain. Sebenarnya itu juga kesenangan yang harus dilepaskan. Oleh pertolongan Tuhan melalui Roh Kudus orang percaya disanggupkan untuk dapat melepaskannya.

Kesenangan-kesenangan hidup ini sebenarnya seperti wilayah dalam kerajaannya yang tidak mudah diserahkan kepada pihak manapun. Juga tidak untuk diserahkan kepada Tuhan. Melepaskan kesenangan hidup seperti mencabut nyawa. Sungguh sangat menyakitkan. Hal inilah yang membuat seseorang menahan diri atau menunda mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan secara benar. Tetapi sebagai anak-anak Allah kita harus berani melakukannya. Bagaimanapun beratnya, kita harus melakukannya dengan rela dan sukacita, sampai akhirnya kita dapat melakukan dengan sukacita. Tuhan pasti menggantikan kesenangan dunia dalam diri kita dengan damai sejahtera-Nya yang luar biasa. Kehidupan sebagai anak-anak Allah adalah kehidupan yang tidak wajar menurut dunia. Kehidupan yang tidak memiliki keinginan dan kesenangan selain menyukakan hati Allah Bapa. Sesungguhnya dengan cara ini kita menantang zaman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.