29. DEWASA MENTAL DAN SPIRITUAL

BANYAK ORANG BERPIKIR bahwa Tuhan sengaja membawa orang percaya kepada keadaan yang sulit supaya bisa mengandalkan Tuhan, dalam pengertian tanpa berusaha keras orang percaya bisa mendapatkan kemudahan pertolongan Tuhan. Kemudian mereka bisa bersaksi atas pertolongan Tuhan tersebut untuk menunjukkan kehebatan Tuhan, sehingga nama Tuhan dimuliakan. Dalam hal ini seakan-akan Tuhan memancing orang percaya untuk memuliakan Dia melalui pertolongan Tuhan atas keadaan sulit yang mereka alami. Bisa dikesankan bahwa Tuhan akan memberi keadaan sulit secara berkala agar orang percaya bergantung kepada-Nya. Betapa konyolnya Tuhan macam ini. Faktanya Tuhan yang benar, tidaklah demikian.

Jika Tuhan memberi kesulitan hidup dengan tujuan agar umat mengandalkan Tuhan, kemudian Tuhan dimintai pertolongan dan Tuhan menolong agar nama-Nya dimuliakan, berarti Tuhan bukanlah Tuhan yang agung. Mengapa? sebab dengan cara yang tidak elegan Tuhan membuat orang bergantung kepada-Nya dan memuliakan nama-Nya. Itu cara bergantung dan memuliakan Tuhan yang tidak dewasa. Bagaimana bergantung dan memuliakan Tuhan secara dewasa? Dengan memberi penghargaan kepada Tuhan berdasarkan pengertian dan kesadaran terhadap tindakan penyelamatan Allah atas kita serta rencana-rencana-Nya berkenaan dengan Kerajaan-Nya. Kalau orang percaya mengalami kesulitan, hal itu dimaksudkan agar orang percaya berlatih menjadi dewasa mental maupun spiritual. Dengan kesulitan-kesulitan tersebut orang percaya belajar mengembangkan diri secara benar. Sulit pengembangan diri bisa berlangsung tanpa proses kehidupan secara konkret di dalamnya, termasuk melalui kesulitan-kesulitan dan banyak persoalan yang tidak menyenangkan.

Justru melalui berbagai pergumulan yang berat orang percaya akan bertumbuh dewasa. Dengan pergumulan menyelesaikan masalah-masalah hidup seorang anak Tuhan mengembangkan diri menjadi dewasa, baik secara mental maupun spiritual.

Dengan beratnya pergumulan hidup, orang percaya bisa menyadari betapa tidak menyenangkan hidup di dunia yang sudah jatuh. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya bisa menghayati bahwa bumi ini bukan rumah kita. Dengan demikian kita dapat menujukan tujuan hidup ini ke surga dan merindukan kedatangan Tuhan Yesus. Hanya dengan cara demikian seorang anak Tuhan berkehendak dan berjuang untuk memindahkan hatinya ke surga, sebab dimana ada harta kita di situ hati kita berada.1 Sampai pada titik tertentu seseorang tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini tetapi menaruh seluruh pengharapannya pada penyataan atau kedatangan Tuhan.2 Kita harus meyakini bahwa kebahagiaan hidup yang ideal dapat terwujud hanya nanti pada saat Tuhan Yesus datang kembali. Dengan menaruh seluruh pengharapan kita pada Tuhan berarti kita mengandalkan Tuhan. Sebaliknya kalau seseorang masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini berarti belum mengandalkan Tuhan. Dalam hal ini mengandalkan Tuhan berarti menjadikan Tuhan sebagai satu-satuya kebahagiaan hidup ini. Hal ini sungguh- sungguh sangat penting, sebab kalau seseorang bisa merasa bahagia oleh karena sesuatu hal (apa pun dan dengan siapa pun) berarti ia sudah membelakangi atau berkhianat kepada Tuhan.

Dengan berbagai persoalan berat orang percaya menyadari betapa terbatasnya kemampuan manusia. Kita membutuhkan tangan kuat untuk menghadapi kuasa kegelapan. Menghadapi masalah-masalah umum saja, menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, kita membutuhkan Tuhan menyertai dan memberkati, apalagi melawan kuasa kegelapan yang sangat kuat dan cerdik. Melalui berbagai persoalan yang kita alami Tuhan mengajar kita untuk rendah hati. Kita harus terus menerus dalam kesadaran bahwa tanpa Tuhan kita tidak akan dapat bisa menang menghadapi kuasa kegelapan. Kita hanya dapat mengandalkan Tuhan untuk bisa mengalahkan kuasa kegelapan. Dalam hal ini kita harus mengandalkan Tuhan secara dewasa; dimana mengandalkan kepada Tuhan bertalian dengan pergumulan untuk menjadi dewasa dan sempurna.

1) Matius 6:21-22 ; 2) 1Petrus 1:13

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.