29 Desember 2014: Mengarahkan Diri Sendiri Untuk Selamat

Orang percaya harus berjuang untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah standar kesucian Allah. Sayang dan malang sekali, banyak orang Kristen tidak memahami dengan benar akan hal ini. Mereka sudah merasa sangat puas dengan keberadaan moral yang mereka miliki dan tidak berusaha keluar dari standar yang ada. Malahan tidak sedikit orang Kristen yang moral umumnya saja tidak lebih baik dari orang non Kristen tetapi jiwanya tidak merasa terganggu. Salah satu penyebab keadaan ini adalah pemahaman bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus diperoleh bukan karena berbuat baik. Mereka memahami salah teks Alkitab dalam Efesus 2:8-9 tersebut. Mereka juga berpikir bahwa kalau sudah menjadi orang yang dipilih oleh Allah, bagaimana pun akan selamat, sedangkan mereka tidak memahami apa maksud atau isi keselamatan itu. Mereka hanya berpikir bahwa pada intinya bahwa selamat itu artinya terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Mereka juga belum memahami apa surga itu. Mereka berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyaman dimana orang hanya bernyanyi-nyanyi. Tidak heran kalau mereka tidak memiliki perjuangan untuk melakukan kehendak Allah. Ternyata kata “pikiran” dalam Filipi 2:5 dalam teks aslinya bukan kata benda tetapi bentuk perintah (imperative), yaitu phroneistho (φρονείσθω). Dalam bahasa Yunani kata ini memiliki kasus imperative present passive third person singular dari akar kata phroneo (φρονέω). Kalau diterjemahkan bebas bisa berbunyi berpikirlah atau bersikaplah seperti Yesus Kristus. Dalam bahasa Inggris ada yang menerjemahkan sebagai berikut: Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus. Kalau Firman Tuhan memerintahkan agar kita berpikir atau bersikap, maka berarti kita yang harus menggerakkan atau mengarahkan pikiran atau menetapkan sikap kita. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh pihak lain. Kita sendiri yang harus mengendalikan pikiran kita.

Dalam hal tersebut, Tuhan tidak akan berintervensi, sebab pikiran seseorang yang merupakan pusat kemudi kehidupan adalah hak dan wewenang masing-masing individu. Itulah sebabnya kepada Kain Tuhan hanya bisa memperingatkan bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, sangat menggoda. Tetapi Kain harus berkuasa atasnya (Kej. 4:7). Kepada Petrus Tuhan Yesus berkata bahwa Iblis telah menuntut untuk menampi (menggoncangkankan atau mencobai) dia, tetapi Tuhan Yesus hanya bisa berdoa supaya imannya tidak gugur (Luk. 22:31-32). Sama dengan Tuhan Yesus pun tidak bisa menyelamatkan Yudas jika Yudas memang berkehendak untuk memilih uang dari pada kesetiaan. Yudas sudah sejak lama suka mencuri dan pikirannya terikat dengan kekayaan. Di ujung pengkhianatan Yudas pun Tuhan Yesus sudah mengingatkan berulang-ulang melalui perkataan dan sikap-Nya. Tuhan Yesus memberi tahu bahwa salah satu dari murid-murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Tuhan tidak perlu menyatakan hal itu kalau Ia sengaja menjerumuskan Yudas untuk menjadi pengkhianat. Tuhan hanya bisa mengarahkan pikiran seseorang tetapi tidak akan mengambil alih kemudi. Iblis pun juga tidak bisa mengambil alih kemudi, tetapi memengaruhi sehingga seseorang mengarahkan kemudi hidupnya kepada arah tertentu. Iblis mengarahkan manusia kepada kerajaan kegelapan ini. Hendaknya kita tidak menuduh Tuhan sengaja menyerahkan kemudi hidup orang-orang tertentu kepada Iblis agar diarahkan ke neraka, sementara Ia mengambil alih kemudi hidup orang-orang tertentu untuk diarahkan ke surga. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Tuhan tidak akan menyelamatkan mereka yang tidak bersedia diselamatkan yaitu mereka yang mengarahkan pikiran dan hatinya kepada arah yang berbeda dari arahan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.