28. Tanggung Jawab Dalam Percaya

MENGANDALKAN TUHAN BUKAN berarti membuat kita menjadi malas, tidak kerja keras dan tidak tekun bekerja. Kita harus tetap dalam kesadaran bahwa kita hidup dalam tatanan Tuhan yang tidak dapat diubah, bahwa apa yang ditabur seseorang itu juga yang dituainya. Tuhan sendiri tidak akan melanggar ketetapan-Nya. Seharusnya gereja bukan hanya mengajarkan Allah sebagai pribadi yang baik, sebab Allah jelas sangat baik. Bukan pula Allah yang berkuasa dan mukjizatnya masih ada, jelas Allah adalah Allah yang tidak berubah. Tetapi gereja harus mengajarkan bahwa jemaat harus bekerja keras sebagai ibadah yang sejati untuk menyelesaikan semua permasalahan mengenai keuangan.1 Di kalangan gereja-gereja tertentu bila terdapat kesaksian yang bisa menyelesaikan masalah ekonomi dengan cara ajaib, maka berarti suatu nilai lebih, seakan-akan Tuhan memperlakukan mereka sebagai istimewa. Misalnya masalah hutang piutang yang mendapat penyelesaian dengan mudah, mendapat pekerjaan dengan gampang, bisnis tiba-tiba menanjak.

Selama ini dikesankan bahwa anak-anak Tuhan walaupun tidak kerja keras, giat dan rajin, Tuhan tetap memberkati dengan memenuhi segala kebutuhan kita. Apakah Tuhan kita bersikap demikian? Bila Tuhan bersikap demikian, maka Tuhan telah merusak mental anak-anak-Nya. Hendaknya kita tidak mengajarkan bahwa walaupun anak Tuhan tidak bekerja keras, Tuhan pasti akan memberkati. Berbeda dengan mereka yang bukan anak-anak Tuhan, dimana mereka harus bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan jasmani. Tuhan yang memberi hakikat pada manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab adalah Tuhan yang menuntut anak-anak-Nya menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Walaupun sebagai anak-anak Tuhan, tetapi bila tidak bekerja keras maka Tuhan tidak akan memberkati. Tuhan bukan hanya Tuhan yang baik dan penuh kasih, tetapi juga Tuhan yang adil. Tuhan juga menegakkan keadilan dalam kehidupan anak-anak-Nya. Dikhawatirkan dalam marketplace anak-anak Tuhan tidak bisa berkompetisi dengan anak-anak dunia yang memaksimalkan potensi mereka. Oleh sebab itu anak Tuhan tidak boleh malas, karena kemalasan adalah pelanggaran terhadap hukum kedelapan. Tuhan pasti mengajar anak-anak-Nya untuk bertanggung jawab, juga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Setelah menjadi anak Tuhan kita juga dipanggil untuk bertanggung jawab atas pemeliharaan tubuh kita yang adalah bait Roh Kudus. Itulah sebabnya Paulus menasihati anak rohaninya untuk menjaga kesehatan.2 Jadi dapat disimpulkan bahwa kita sebagai orang percaya dapat menjauhi sakit penyakit dengan menjaga kesehatan tubuh ini dan tidak memberontak kepada Tuhan, hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Dalam hal ini berdoa hendaknya tidak dijadikan sarana manipulasi yang membuat kita lari dari tanggung jawab. Kita tidak meragukan sama sekali kuasa kesembuhan oleh bilur-bilur Tuhan. Kita juga tidak ragu-ragu sama sekali bahwa Tuhan telah memikul sakit penyakit kita di kayu salib. Tetapi ini bukan berarti kita boleh ceroboh tidak bertanggung jawab mengelola tubuh kita secara maksimal dan benar. Dalam Alkitab kita temukan bagaimana Tuhan begitu ketat memberi perintah kepada umat pilihan-Nya, yaitu bangsa Israel dalam mengkonsumsi makanan. Paulus juga menasihatkan anak rohaninya untuk minum anggur sedikit demi kesehatannya. Dalam Perjanjian Baru tidak ada kesan sama sekali bahwa kita boleh mengabaikan kesehatan tubuh kita.

Mengelola tubuh menyangkut beberapa hal ini, antara lain: pola makan yang baik, sediakan waktu secara teratur untuk olah raga, minum air putih yang cukup, sinar matahari pagi yang cukup, emosi yang terkendali atau tidak diledakkan, hindari stress, udara bersih yang dihirup dan lain sebagainya. Bila seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin menjaga kesehatan (walau tentu tidak sempurna), maka barulah boleh tidak khawatir. Tetapi kalau belum menjaga kesehatan semaksimal mungkin maka ia tidak boleh tidak khawatir.

1) Roma 12:1; 2) 1Timotius 5:23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.