28 September 2014: Harus Menghadap Tahta Pengadilan Allah

Cepat atau lambat setiap orang harus kembali kepada Tuhan. Kembali kepada Tuhan ini bukan sekedar pulang menghadap Tuhan tetapi harus berdiri di hadapan pengadilan Tuhan untuk memberi pertanggungjawaban atas semua yang diperbuat selama hidup di dalam dunia ini. Segala sesuatu yang dilakukan manusia harus dipertanggungjawabkan, bahkan setiap kata yang diucapkan (Mat. 12:36; Rm. 14:12; 2Kor. 5:9-10; Why. 20:12). Realita ini hendaknya bukan sekedar menjadi pengetahuan yang disetujui pikiran, tetapi pengertian yang harus mempengaruhi kuat seluruh perilaku kehidupan. Untuk ini kita harus merenungkannya terus menerus secara mendalam dan membiarkan jiwa kita terhanyut dan tenggelam di dalam kebenaran ini. Kalau hanya setuju di dalam pikiran dan selintas merenungkannya, maka tidak akan signifikan mempengaruhi perilaku hidup kita. Itulah sebabnya banyak orang yang setuju bahwa manusia harus mati dan kembali kepada Penciptanya serta harus mempertangungjawabkan hidupnya di depan pengadilan Allah tetapi mereka tidak mempersiapkan diri dengan seksama menghadap tahta pengadilan Allah tersebut. Mereka menganggap sepi tahta pengadilan Allah. Orang-orang seperti ini tidak memiliki sikap berjaga-jaga.

Bagi mereka yang belum mengerti kebenaran yang utuh, sehingga belum berjalan di dalam terang merasa sudah memenuhi tanggungjawabnya dengan studi, berkarir, bisnis atau mencari nafkah, menikah, memiliki anak dan membesarkannya, mencarikan menantu, mengasuh cucu dan mati. Itulah isi hidupnya. Seakan-akan semua itu adalah tanggung jawab atau perlombaan yang diwajibkan. Tidak heran kalau beragama atau bertuhan pun untuk tujuan agar tanggung jawab tersebut atau perlombaan tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan ia pun bisa menikmatinya sebagai kesukaan. Bagi umat Perjanjian Lama sebelum jaman anugerah dimana belum ada keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, cara hidup atau gaya hidup dunia seperti di atas merupakan hal yang tidak keliru, bahkan bagi umat pilihan-Nya secara lahiriah yaitu bangsa Israel Tuhan membantu mereka untuk mewujudkan hal tersebut. Itulah ukuran atau standar umum manusia. Tetapi memasuki jaman anugerah, dimana Tuhan memilih orang-orang yang menjadi penentu akhir sejarah dunia, maka kehidupan orang percaya harus difokuskan kepada rencana Allah yang agung tersebut sehingga mereka memiliki ukuran atau standar hidup yang khusus dan luar biasa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.