28. SENI MEMERCAYAI ALLAH

KEPERCAYAAN KEPADA ALLAH Bapa tidak mudah dimiliki, sebab Allah Bapa tidak kelihatan, sementara berbagai masalah hidup nampak di depan mata. Tetapi justru di sini kita menemukan “seni” memercayai Allah yang tidak kelihatan. Seni memercayai Allah ini harus dilatih terus. Sama seperti seni musik, seni tari dan berbagai cabang kesenian lainnya, harus dilatih dan terus dikembangkan. Berbakat bagaimana pun, tanpa latihan bakatnya akan mati dan seseorang tidak pernah menyelenggarakan bakat seni di dalam dirinya. Seperti kesenian yang digeluti seseorang membutuhkan latihan, demikian pula seni menaruh percaya kepada Allah yang tidak kelihatan. Kalau Tuhan membawa kita kepada keadaan yang sulit, membahayakan dan mengancam, maka Tuhan sedang mengajar kita mengembangkan seni tersebut. Sampai pada level tertentu seseorang sangat yakin kehadiran Allah dalam hidupnya dan menghayatinya secara mendalam dan kuat. Baginya memercayai dan mengalami Tuhan setiap saat adalah irama permanen yang melekat di dalam dirinya. Dampak kehidupan seperti ini adalah keteduhan jiwa dalam segala keadaan dan takut akan Allah yang menghindarkan seseorang berbuat dosa. Dengan demikian nyatalah bahwa kepercayaan kepada pribadi Bapa bertalian dengan kesucian hidup. Seorang yang tidak memercayai pribadi Bapa tidak mungkin melakukan kehendak-Nya.

Anak-anak Allah yang sah (huios) adalah orang-orang yang menaruh percaya kepada pribadi Bapa. Sebelum seseorang menutup mata, Bapa pasti mendidiknyauntuk memiliki sikap hati memercayai pribadi Bapa dengan benar, sebab inilah sikap hormat mutlak yang harus dimiliki orang-orang yang masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan. Bapa tidak menginginkan anak-anak-Nya memercayai Dia secara benar setelah berada di rumah-Nya, yaitu ketika mereka menyaksikan kemuliaan Allah tiada tara nanti di balik kematian.

Tetapi Bapa menghendaki kita memercayai-Nya secara benar sejak sekarang, selagi masih hidup di di dunia, yaitu ketika Bapa dan Tuhan Yesus Kristus tidak kelihatan dan sering bersikap seakan-akan tidak ada. Di saat itulah orang percaya sudah menaruh percaya yang tulus kepada-Nya, tanpa perasaan curiga sama sekali. Inilah sikap memuliakan Allah yang pantas, bukan hanya dengan kata-kata dan nyanyian. Penghuni rumah Bapa adalah orang-orang yang telah lulus dari berbagai goncangan hidup tetapi tetap memercayai pribadi Bapa, seperti yang telah dialami oleh Tuhan Yesus.

Dengan demikian kesulitan hidup merupakan bagian dari pendidikan Tuhan bagi orang percaya untuk dapat menjadi anak yang sah, sepeti yang tertulis dalam 1Petrus 1:3-8, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, … untuk menerima suatu bagian yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus

Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan”. Tulisan Petrus ini menjelaskan proses pemurnian iman melalui berbagai keadaan sulit yang harus dialami orang percaya. Semua pergumulan hidup yang dialami orang percaya bertujuan untuk memurnikan iman. Tanpa kemurnian iman seseorang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Sampai pada level tertentu -setelah menerima didikan Bapa sehingga dapat menaruh keyakinan terhadap pribadi Bapa dengan benar- seseorang dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Ia dapat menjadi saksi Tuhan yang baik.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.