28. Sekolah Tuhan

PERJALANAN HIDUP DI BUMI selama 70 sampai 90 tahun ini adalah kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah yang pantas masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Oleh sebab itu dibutuhkan proses pendewasaan yang harus berlangsung sepanjang waktu dalam hidup kita ini. Tuhan mendewasakan melalui pengalaman hidup konkret yang melibatkan pikiran, perasaan dan kehendak kita. Karena ini adalah bagian-bagian dalam unsur jiwa atau manusia rohaniah yang digarap Tuhan. Peristiwa-peristiwa yang mendewasakan kita tersebut bisa peristiwa-peristiwa yang luar biasa yang dapat menggetarkan atau menggoncang jiwa. Kalau peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami tidak menggoncang jiwa, kadang-kadang kurang efektif. Banyak orang yang harus mendapat goncangan hebat barulah ia bisa berubah atau bertobat. Bagi orang percaya yang mengerti kebenaran ini, tidak terkejut kalau ada sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidupnya, sebab itu berarti Tuhan sedang menggarapnya agar terjadi perubahan.

Memang idealnya tidak perlu harus mengalami kejadian yang sangat menyakitkan barulah bisa bertobat, dari hal-hal sederhana seharusnya kita sudah mengerti maksud Tuhan dan kita bersedia berubah. Tetapi kalau melalui hal-hal yang biasa-biasa saja yang tidak menyakitkan tidak berubah maka Tuhan akan mengijinkan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan terjadi untuk mengubah kita. Seperti Yusuf, ia harus digarap dengan kejadian hebat untuk menghancurkan sikap manja, tidak mandiri dan kekanak-kanakkannya.1 Kalau Yusuf masih tinggal di rumah orang tuanya, ia tidak akan dapat menjadi orang hebat. Ia masih menjadi anak yang hidup dalam proteksi berlebihan Yakub. Ia tidak pernah menjadi pribadi yang matang. Ternyata tekanan membuat Yusuf menjadi manusia lain; manusia yang dapat dipercayai Tuhan untuk terlibat dalam rencana-rencana besar Allah. Pengalaman yang menyakitkan yang dialami Yusuf merupakan proses untuk mewujudkan mimpi Yusuf yang adalah visi dari Tuhan untuk memenuhi rencana-Nya, yaitu menyelamatkan keturunan Abraham pada waktu bencana kekeringan.

Kenyataan yang kita jumpai banyak orang yang bisa bertumbuh melalui “tekanan” (growing under pressure). Maksudnya adalah peristiwa-peristiwa kehidupan yang menyakitkan yang dialami, membuahkan kedewasaan rohani. Kalau seseorang ditekan dengan tekanan berkekuatan lemah sudah bisa berubah, maka Tuhan tidak perlu menekan dengan kekuatan yang besar. Tuhan bukan pribadi yang suka “menyakiti” anak-anak-Nya. Tetapi Tuhan harus menyakiti anak-anak-Nya demi perubahan dan keselamatan mereka. Dalam hal ini Tuhan tidak bekerja sendiri untuk mendewasakan, kita harus terlibat. Maksudnya, bahwa kita harus pro aktif menerima penggarapan Tuhan tersebut. Inilah proyek Bapa, karenanya Tuhan berkata “ berbuahlah”.2 Hal ini berarti kita harus aktif memberi diri dibentuk oleh Tuhan. Jadi kita tidak boleh hanya pasrah pasif saja, tetapi harus aktif.

Kita harus terus bergerak untuk memperoleh atau mengalami perubahan-perubahan. Tidak ada satu hari dimana kita tidak menerima penggarapan Tuhan untuk mendewasakan kita. Bila seseorang serius dengan proyek ini maka baginya masalah hidup ini bukan terletak pada kurang uang, diperlakukan tidak adil, gagal karir, gagal rumah tangga dan lain sebagainya, tetapi terhambatnya pertumbuhan kita itulah masalah terbesar.3 Banyak orang gusar untuk hal-hal duniawi tetapi untuk hal-hal rohani tidak pernah merasa perlu gusar walaupun keadaan rohani mereka jauh dari standar yang dikehendaki oleh Tuhan. Sekarang kita harus mulai mengerti bahwa berbagai persoalan yang selama ini dianggap sebagai sumber kegusaran hidup, harus dipahami dan diterima sebagai berkat kekal, sebab melalui keadaan atau kejadian tersebut Tuhan hendak mendewasakan kita. Semakin besar goncangan yang kita alami semakin efektif proses pendewasaan yang berlangsung dalam hidup kita.

1) Mazmur 105:16-24 ; 2) Yohanes 15:1-7 ; 3) Ibrani 5:11-12

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.