28 Oktober 2014: Merindukan Bapa

Kalau hati seorang anak Tuhan nyambung dengan hati Bapa atau memiliki persekutuan dengan Bapa secara permanen maka ia akan merindukan pulang ke rumah Bapa. Kerinduan akan rumah Bapa menjadi nyata, kuat dan tidak berpura-pura tetapi tulus. Ia berhasil menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya (2Kor. 5:1-7). Perasaan tersebut tidak bisa dibuat-buat, tetapi akan timbul dengan sendirinya dan terus tumbuh seiring dengan kedewasaan rohani yang ditandai dengan kesediaan meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Orang-orang seperti ini mengerti artinya tidak terikat dengan dunia dan menikmati damai sejahtera Tuhan yang melampaui segala akal. Ia juga mengerti maksud Tuhan dengan pernyataan Tuhan, adanya hidup yang penuh pengharapan. Penuh pengharapan bukan di dunia ini tetapi di balik kehidupan ini yaitu di seberang kubur. Betapa bahagianya hidup seseorang yang benar-benar ditujukan ke Rumah Bapa, sebab hanya dengan berbuat demikian ia mengisi hidup ini secara benar dengan berusaha hidup berkenan kepada Bapa dan mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Dengan demikian seseorang dapat memiliki arah hidup yang jelas. Sebenarnya semua orang percaya dipanggil untuk memiliki jenis kehidupan seperti ini; fokus kepada Rumah Bapa. Bila warna hidup kita tidak seperti ini, berarti kita telah gagal menjadi anak Allah. Rumusnya adalah orang Kristen yang tidak merindukan Bapanya bukanlah anak Allah. Pada umumnya orang-orang tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang berbahaya atau mengganggu keselamatan serta hubungannya dengan Tuhan. Tetapi sejatinya hal itu merupakan cara iblis memperlemah gairah untuk mencari Tuhan secara proporsional dan menggiring manusia kepada kebinasaan. Memang pada mulanya orang-orang yang terbujuk menikmati kesenangan sesaat tersebut tidak bermaksud hendak mengkhianati Tuhan. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu ia akan terbelenggu oleh kesenangan-kesenangan tersebut sampai tidak bisa lepas dari jeratnya sehingga hatinya tidak nyambung dengan Tuhan dan tidak merindukan kedatangan Tuhan lagi. Oleh sebab itu, dengan hati yang tulus dan jujur kita harus memeriksa diri, apakah ada kesenangan-kesenangan dalam hidup kita yang mulai menjadi kesenangan permanen sehingga menggeser fokus kita kepada perkara-perkara sorgawi yaitu rumah Bapa? Jika ternyata memang ada gejala tersebut, kita harus segera melarikan diri dari padanya, sebab hal tersebut yang akan merusak jiwa kemusafiran kita.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.