28 November 2014: Yang Dituntut Tuhan

Dalam Yohanes 14:6 Tuhan Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kata datang dari teks aslinya erchomai yang juga bisa berarti accompany (menemani bersama). Pernyataan Tuhan Yesus ini bukan sesuatu yang dapat dianggap sederhana. Bila ditinjau dari konteks Yahudi, pernyataan ini bisa dianggap terlalu berani, sebab Bapa yaitu Yahwe adalah Sosok yang dianggap sangat sakral, agung dan tidak tersentuh. Dari pernyataan Tuhan Yesus ini diisyaratkan kemungkinan untuk “sampai kepada Bapa”, sebuah persekutuan atau kebersamaan. Siapakah kita sehingga dapat menjadi “orang dekat-Nya”? Tetapi inilah anugerah yang tiada tara yaitu ketika kita menjadi kekasih Tuhan yang dibahasakan dengan pengakuan: “You are my everything”. Ini lebih dari sukses karir, studi rumah tangga dan lain sebagainya. Inilah hari depan yang penuh harapan yang sesungguhnya.

Penulis kitab Ibrani menyatakan: “Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka…. Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna…” (Ibr 12:18-24).

Tuhan tidak menuntut harta kita, tetapi Tuhan menghendaki agar hati kita diserahkan kepada-Nya. Orang yang menyerahkan hatinya kepada Tuhan berarti mengingini Tuhan lebih dari mengingini segala sesuatu. Kesalahan yang sangat membahayakan bagi hidup kita adalah tidak fokus. Akibat dari kesalahan ini besar sekali arti negatifnya bagi hidup. Kesalahan ini berjangkit hampir atas semua orang Kristen. Malangnya banyak orang Kristen tidak menyadari kesalahan yang bisa berakibat sangat fatal ini. Kesalahan itu dapat dikalimatkan sebagai: Tidak memiliki fokus hidup yang benar. Kata lain yang searti dengan itu adalah “disorientasi” (disorientate). Tidak fokus hidup ini dapat membuat sesat, sebab ia kehilangan arah atau tidak memiliki tujuan perjalanan. Fokus hidup yang benar adalah pribadi Tuhan sendiri. Selanjutnya juga kerajaan dan kebenaran-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.