28. MENGANDALKAN TUHAN SECARA DEWASA

SEBENARNYA MENGANDALKAN Tuhan memiliki beberapa pengertian. Salah satu pengertiannya adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha semaksimal mungkin. Dalam hal ini ada dua pokok pikiran yang penting. Pertama, harus ada usaha semaksimal mungkin dari kita dalam menyelesaikan masalah-masalah hidup yang kita hadapi. Kedua, setelah kita berusaha semaksimal mungkin, selanjutnya hasil atau keadaan yang terjadi harus kita percayai dan terima sebagai sesuatu yang baik dan berguna bagi kita. Bahkan ketika hasil usaha kita dalam menyelesaikan masalah tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus percaya bahwa keadaan itu adalah keadaan terbaik. Keadaan tersebut pasti bukan sesuatu yang mencelakai. Hasil akhir tersebut adalah berkat kekal yang Tuhan berikan, artinya melalui hal tersebut Tuhan mendewasakan kita untuk persiapan hidup di kekekalan.

Dalam hal ini mengandalkan Tuhan berarti memercayai dan menerima bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita mendatangkan kebaikan; bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.1 Oleh sebab itu hendaknya kita tidak memaksakan kehendak kita sendiri. Kalau keadaan yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus menerimanya dengan percaya bahwa hal itu tidak akan mencelakai kita. Tuhan sangat bisa kita andalkan untuk menjadikan keadaan terburuk sekali pun dapat menjadi sesuatu yang baik bagi kita. Inilah sikap mengandalkan Tuhan yang dewasa. Kalau mengandalkan Tuhan hanya karena menerima kemudahan dan jalan keluar dari berbagai masalah yang ada, maka itu bukanlah sikap mengandalkan Tuhan yang dewasa. Biasanya bangsa Israel mengandalkan Tuhan berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan persoalan-persoalan duniawi, seperti menang dari musuh, panen raya yang berlimpah dan berbagai masalah lain yang tidak secara langsung berkenaan dengan perubahan karakter dan kekekalan. Berbeda dengan orang percaya di zaman Perjanjian Baru. Orang percaya diproyeksikan untuk dikembalikan ke rancangan semula. Hal mengandalan Tuhan harus bertalian dengan karakter yang diubahkan seperti Kristus dan dilayakkan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah.

Jika Tuhan mengambil alih semua persoalan kita dan dengan mudah memberi jalan keluar, maka Tuhan merusak mental anak-anak-Nya. Sejatinya Tuhan menghendaki anak-anak-Nya memaksimalkan semua potensi sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Sering orang berkata: “Allah berperang ganti kita”. Pernyataan ini memang terdapat dalam Alkitab. Tetapi harus dipahami konteksnya, yaitu ketika bangsa Israel dalam keadaan tidak berdaya sama sekali, maka Tuhan yang bertindak melindungi umat-Nya. Pernyataan “Allah berperang ganti kita” tidak boleh menjadi alasan orang percaya menjadi malas dan tidak bertanggung jawab menghadapi hidup dengan berbagai persoalannya.

Dalam konteks hidup kita sebagai orang percaya, “Allah berperang ganti kita” bisa terjadi pada saat orang percaya dalam situasi ekstrim, yaitu dimana orang percaya sudah tidak berdaya sama sekali. Itu pun tidak selalu sesuai dengan keinginan atau harapan kita, tetapi berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanan Tuhan. Jangan sampai seorang Kristen masih bisa berusaha tetapi karena malas dan tidak membangun atau mengobarkan daya juang, kemudian berharap Tuhan bertindak menyelesaikan persoalannya (Allah berperang ganti kita). Kalau Tuhan mudah bertindak menyelesaikan masalah orang percaya, berarti Tuhan merusak mental orang tersebut. Hal ini akan membuat seseorang menjadi malas, memiliki daya juang rendah dan tidak bertanggung jawab. Hendaknya kita tidak berpikir naif bahwa bila kita memercayai kuasa Tuhan, maka Ia akan melakukan apa pun, supaya nama-Nya dimuliakan. Hal ini seakan-akan Tuhan membutuhkan pujian dan sanjungan. Pada dasarnya percaya kepada Tuhan bukan karena kuasa-Nya tetapi karena pribadi-Nya. Percaya kepada Tuhan berarti menerima semua tindakan-Nya.

1) Roma 8:28

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.