28 Januari 2015: Menjadi Anak-Anak Bapa

Persekutuan dengan Bapa berarti persekutuan dengan pribadi-Nya. Orang-orang yang hidup dalam persekutuan dengan Bapa memilki ciri-ciri yang jelas dalam hidupnya. Orang yang hidup dalam persekutuan dengan Bapa memiliki kecintaan yang sangat ekstrim kepada Bapa, sehingga segala sesuatu bisa dikorbankan demi melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Bapa. Hal mana juga telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia menaati Bapa sampai menyerahkan nyawa-Nya dalam ketaatan yang sempurna. Inilah yang membuat diri dan hidup Tuhan Yesus Kristus sangat bernilai. Oleh ketaatan Tuhan Yesus, Bapa bisa mengaku bahwa Dialah Anak yang dikasihi-Nya.1 Kalau seandainya Tuhan Yesus tidak taat, apakah Bapa di surga masih memberi pengakuan bahwa Dia adalah Anak yang dikasihi-Nya? Tentu tidak. Di sini diajarkan kepada kita bahwa syarat untuk“anak yang dikasihi Bapa dan yang berkenan kepada-Nya” adalah hidup dalam penurutan yang sempurna kepada Bapa di surga. Hal ini harus menjadi obyek pergumulan kita tiada henti. Kebenaran ini sinkron dengan yang dikemukakan oleh penulis kitab Ibrani, bahwa untuk menjadi anak harus dididik. Pendidikan tersebut merupakan pengesahan sebagai anak bagi Bapa. Orang-orang yang pantas menjadi anak yang sah atau menjadi pangeran (Yun. huios) adalah mereka yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah.2

Hanya orang-orang yang berstatus sebagai anak bagi Bapa di Surga yang memperoleh persekutuan dengan Bapa. Oleh sebab itu tidak bisa tidak kita harus menjadi saudara bagi Tuhan Yesus, sehingga Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara.3 Kalau jujur, kita belumlah mencapai level sebagai anak yang sah (Yun. huios), tetapi masih berstatus sebagai anak gampang yaitu anak yang belum sah (Yun. nothos). Inilah perjuangan yang harus kita lakukan di sepanjang umur hidup kita, seperti yang diupayakan Paulus; berusaha berkenan kepada Bapa.4 Hanya orang yang berkenan kepada Tuhan yang pantas disebut anak-anak Allah. Dengan demikian hanya orang-orang yang berkenan kepada Bapa yaitu yang melakukan kehendak Bapa yang diterima di Kerajaan Surga.5

Anak-anak Bapa ini akan melakukan perjuangan yang luar biasa seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus demi kepentingan rencana Bapa. Prinsip hidup-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Mereka akan memaksimalkan semua potensi dan menggunakan sepenuhnya untuk menggenapi rencana Bapa, yaitu bagaimana jiwa-jiwa diselamatkan dan didewasakan menjadi corpus delicti guna mempercepat kedatangan Tuhan Yesus yang sama dengan membinasakan pekerjaan Iblis. Tidak ada kegiatan yang dilakukan yang tidak mengarah kepada kepentingan keselamatan jiwa-jiwa dan pendewasaannya. Orang-orang seperti ini bila berkeluarga akan mengarahkan anak-anaknya hanya untuk terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Apa gunanya dan hebatnya anak-anak berhasil dalam karir dan studi tetapi tidak mengerti untuk apa diri mereka diciptakan oleh Tuhan. Apa gunanya mereka berbekal pendidikan dan kekayaan tetapi mereka tidak memiliki bekal menyongsong kekekalan yang pasti akan dialami.

Anak-anak Bapa semakin menghayati bahwa dunia ini bukan tempatnya. Dunia hanyalah persinggahan sementara. Kerinduannya adalah Kerajaan Tuhan Yesus Kristus di langit baru dan bumi yang baru atau rumah Bapa. Orang-orang seperti ini tidak akan mengusahakan bagaimana memiliki rumah mewah, mobil mewah, perhiasan yang memukau manusia lain dan lain sebagainya yang pada dasarnya dapat memberi nilai diri di mata manusia. Tetapi yang diusahakan adalah bagaimana berkenan di hadapan Tuhan dan memperoleh pujian dari Tuhan pada waktunya. Dengan demikian keindahan dunia sudah benar-benar menjadi pudar di matanya. Orang-orang seperti inilah yang dapat berjalan dengan Tuhan dalam persekutuan yang harmoni. Mereka sudah menikmati sebagian suasana surga sebelum masuk surga.

1) Matius 3:17 2). Ibrani 12:5-12 3). Roma 8:28-29 4). 2Korintus 4:9-10 5). Matius 7:21-23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.