28 Desember 2014: Perjuangan Untuk Selamat

Dari pihak manusia, keselamatan dapat berarti perjuangan melawan dosa atau ketidak tepatan (Yun. hamartia; ἁμαρτία). Ketidak tepatan artinya tidak sesuai dengan keinginan Tuhan atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Perjuangan melawan ketidak tepatan ini berlatar belakang kenyataan bahwa manusia telah gagal mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya dengan sempurna. Tuhan Yesus lah yang menggenapinya atau yang dapat melakukannya. Sekarang orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup yang sama seperti Tuhan Yesus. Inilah perjuangan berat tersebut. Orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:10) atau sama dengan mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Keselamatan diterima manusia bukan secara otomatis, tetapi menuntut respon yang aktif dan proporsional. Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk selamat seseorang harus berjuang masuk jalan sempit (Luk. 13:3-24). Perjuangan yang dimaksud adalah perjuangan melawan kodrat dosa (sinful nature) yang sudah melekat dalam dirinya dan kemungkinan dosa yang masih bisa dilakukan di waktu mendatang. Keberhasilan lolos dari kodrat dosa ini membuat seseorang menjadi manusia Allah (man of God). Perjuangan untuk menjadi “man of God” seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus adalah perjuangan yang berat yang harus mengerahkan segenap hidup ini. Dikemukakan oleh Paulus dalam Filipi 2:12, bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Dengan takut dan gentar menunjukkan pergumulan yang tidak ringan. Bila direlasikan dengan ayat sebelumnya (Fil. 2:5-7). Tuhan Menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Yun. φρονέω, phroneo). Tuhan Yesus Kristus adalah model manusia yang diinginkan oleh Bapa. Jadi, keselamatan adalah usaha untuk menjadi manusia yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah sebabnya orang percaya disebut sebagai Kristen yang artinya seperti Kristus. Dalam Ibrani 12:4 tertulis bahwa dalam perjuangan tersebut harus sampai mencucurkan darah. Perjuangan ini dianalogikan dengan perjuangan Tuhan Yesus dalam menyelesaikan tugas ke-Messiasan-Nya (Ibr. 12:2-3). Dalam kitab Ibrani dikatakan: “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibr. 12:3-4). Nasihat ini menunjukkan bahwa kalau Tuhan Yesus sudah bergumul begitu berat untuk manusia agar bisa dibebaskan dari kuasa dosa, maka orang percaya harus mengimbangi perjuangan Tuhan tersebut dengan perjuangan yang keras agar sungguh-sungguh bisa dimerdekakan dari dosa, artinya agar dosa tidak lagi berkuasa atas kehidupan ini. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki moral atau kesucian Allah sendiri. Oleh karena standar kesucian atau kebenaran moral umat pilihan adalah moral Allah sendiri, maka orang percaya dalam hidup ini harus hanya mengarahkan diri pada tujuan keselamatan tersebut. Orang Kristen yang tidak menujukan hidupnya pada tujuan keselamatan ini berarti ia tidak bersedia diselamatkan atau menyia-nyiakan keselamatan yang Tuhan sediakan (Ibr. 2:1-3). Sementara itu, Iblis berusaha menyibukkan manusia dengan kesenangan dan ambisi pribadinya. Tidak sedikit mereka terperangkap oleh percintaan dunia atau semangat materialisme. Sebagai akibatnya mereka tidak memberi perhatian yang semestinya pada proses keselamatan yang harus diperjuangkan setiap individu. Waktu mereka berlalu dengan sia-sia sehingga mereka tidak mengalami pertumbuhan kesempurnaan yang dikehendaki oleh Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.