27 September 2014: Ciri Hidup Dalam Terang

Orang yang hidup dalam terang memiliki ciri yang sangat khusus dan khas yang tidak dimiliki oleh anak-anak dunia. Ciri tersebut adalah memahami dengan jelas dari mana ia datang dan kemana ia pergi. Maksudnya, dirinya benar-benar menyadari dan menghayati bahwa manusia berasal dari Tuhan sebagai makhluk ciptaan dan pasti akan kembali kepada-Nya. Orang yang tidak merespon kebenaran ini, pasti belum mengalami kelahiran baru. Orang-orang seperti ini dikatagorikan sebagai berjalan dalam gelap. Orang yang belum mengalami kelahiran baru tidak akan memiliki kesadaran dan penghayatan yang benar mengenai hal ini, yaitu bahwa manusia harus kembali kepada Penciptanya. Kalau pun mereka tahu atau setuju terhadap kebenaran tersebut, tetapi mereka tidak meresponinya secara benar. Mereka menganggap hal itu tidak penting. Biasanya hal tersebut hanya sebagai konsumsi pikiran yang tidak berdampak sama sekali dalam hidupnya. Mereka pasti tidak akan menghargai nilai-nilai rohani dan nilai-nilai kekekalan.

Dalam dialog antara Tuhan Yesus dengan Nikodemus mengenai kelahiran baru, Tuhan Yesus menyatakan hal ini. Tuhan Yesus berkata: Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh (Yoh.3:8). Tuhan Yesus menunjukkan bahwa guru agama Yahudi ini belum mengerti hal yang paling prinsip yaitu dari mana manusia berasal kemana mereka pergi. Manusia di sini digambarkan sebagai angin. Kata angin di sini tidak menggunakan kata anemos (ἄνεμος) yang artinya angin secara lahiriah atau secara umum, tetapi pneuma (πνεῦμα). Pneuma menunjuk roh manusia. Roh manu­sia yang adalah inti kehidupan manusia. Dalam hal ini yang dibicarakan oleh Tuhan Yesus bahwa roh manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Nikodemus tidak tahu hal ini sebab Nikodemus seperti keban­yakan orang-orang Yahudi dan guru-gurunya, orientasi berpikirnya hanya pada pemenuhan berkat jasmani semata-mata. Demikianlah agama-agama di dunia pada umumnya sama dengan konsep ini. Mereka membutuhkan Tuhan hanya untuk membantu menyelesaikan segala permasalahan hidup ini, sehingga dunia bisa dinikmati dengan nyaman bagai Firdaus. Banyak orang berpikir demikian termasuk banyak rohaniwan, sehingga pengajaran mereka selalu berorientasi pada kemakmuran jasmani.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.