27 Oktober 2014: Menginginkan Semua Selamat

Kalau hati seorang anak Tuhan nyambung dengan hati Bapa atau memiliki persekutuan dengan Bapa secara permanen, salah satu ciri yang paling kuat antara lain mengasihi jiwa-jiwa dengan benar. Ia akan rela berkorban apa pun demi keselamatan jiwa orang lain. Menyelamatkan jiwa di sini artinya berusaha agar orang lain menjadi sempurna seperti Kristus dan dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Seperti Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa demikian pula kita sebagai orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus juga yaitu merindukan setiap orang selamat (2Ptr. 3:9). Bagi orang percaya yang hatinya nyambung dengan Bapa, menilai jiwa manusia lebih berharga dari seluruh harta kekayaan yang ada padanya. Itulah sebabnya demi keselamatan jiwa orang lain ia akan mempertaruhkan hartanya dengan jumlah yang tidak terbatas. Baginya mempersembahkan hartanya kepada Tuhan bukanlah kewajiban tetapi menjadi kodrat dan kegemaran hidup. Tuhan pasti memberikati orang-orang seperti ini lebih limpah bagi pekerjaan-Nya. Sebagaimana beban dan perasaan terhadap keselamatan jiwa manusia ada di hati Tuhan Yesus sehingga Ia rela memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi manusia, demikian pula kita yang mengaku menjadi pengikut-Nya. Untuk itu kita harus meneladani Tuhan Yesus dengan mengasihi setiap insan manusia di sekitarnya dengan segala penghormatan sebab menyadari bahwa nilai jiwa manusia berharga. Lebih dari seluruh harta di dunia ini (Luk. 9:25). Dalam Matius 5:45, dikatakan bahwa Bapa di Surga mengasihi setiap orang tanpa sikap diskriminatif. Hal ini disebabkan karena sesungguhnya setiap manusia adalah anak-anak Allah, artinya roh yang ada pada mereka berasal dari Allah (Ibr. 12:9). Itulah sebabnya Tuhan tidak menginginkan seorang pun binasa. Bukan hanya orang Kristen yang diharapkan selamat tetapi semua bangsa di dunia ini dari semua golongan, agama dan berbagai suku maupun ras diharapkan masuk langit baru bumi yang baru. Kalau seseorang mengaku Anak Allah tetapi tidak memiliki perasaan dan beban seperti ini, diragukan statusnya sebagai anak Allah. Tuhan mendidik kita supaya kita menjadi anak-anak Allah yang memiliki karakter seperti Allah Bapa, yaitu tidak menginginkan seorang pun binasa. Seorang Kristen yang mengikut Tuhan Yesus dan belajar menyerap karakter Bapa pasti mengambil bagian dalam pelayanan bukan sebagai bagian hidupnya tetapi menjadi seluruh hidupnya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.