27. Nutrisi Jiwa

PROBLEM HARUS DITERIMA sebagai nutrisi jiwa yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Jika gereja mengesankan bahwa berurusan dengan Tuhan bertujuan agar kesulitan hidup atau problem dapat dihindari atau dapat diselesaikan dengan mudah, maka berarti gereja merusak mental dan kerohanian jemaat. Orang percaya harus mengerti bahwa pencobaan-pencobaan hidup dialami setiap orang atau semua manusia, bukan hanya orang percaya.1 Pencobaan yang dialami seseorang tidak akan melebihi kekuatan manusia, bukan hanya dialami oleh orang percaya atau anak Tuhan tetapi juga dialami oleh manusia pada umumnya. Dalam hal ini orang di luar orang Kristen pun melalui pengalaman hidupnya dapat membuat mereka bisa bertumbuh menjadi dewasa secara mental. Bagi orang di luar orang percaya, problem-problem hidup ini kalau disikapi dengan benar menghasilkan kedewasaan mental. Orang non Kristen pun juga mengalami kedewasaan secara mental, dan bila mental mereka dewasa sehingga mereka memiliki nurani yang baik, maka mereka pun dapat menyikapi masalah dengan baik. Masalah di sini maksudnya adalah keadaan dimana seseorang harus membagi hidupnya bagi orang lain. Mereka juga bisa berbuat baik kepada orang yang membutuhkan pertolongan artinya mereka bisa menyikapi masalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah sebabnya mereka mendapatkan “reward” (upah atau penghargaan) di kekekalan.2 Dari penjelasan ini kita mengerti dan tidak heran kalau ada orang-orang non Kristen yang perilakunya mulia dalam ukuran manusia.

Seharusnya orang percaya memiliki keadaan hidup (mental dan spiritual) lebih baik dari pada mereka yang tidak percaya. Selain secara kedewasaan mental orang percaya mengalami pertumbuhan, demikian pula secara rohani pun orang percaya mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan rohani inilah yang membuat orang percaya bermental seperti Bapanya. Ini pasti sebuah kualitas kerohanian atau mental yang luar biasa atau sempurna.3 Orang percaya yang mengerti kebenaran tidak akan mengejar ketenangan yang salah. Mereka mengerti kalau pun harus menghadapi keadaan-keadaan yang sulit, hal itu merupakan cara Allah mendewasakan baik secara mental maupun rohani.4 Problem dan masalah kehidupan tidak dipahami sebagai hal yang negatif yang dapat mengurangi ketenangan dalam jiwanya,

Selanjutnya, bagi anak-anak Tuhan, kalau Tuhan membawa “Lazarus-Lazarus” (orang yang perlu ditolong) dalam kehidupannya, hal tersebut dipahami sebagai berkat atau lawatan Tuhan. Lawatan Tuhan tersebut yang membuka berkat abadi di Kerajaan Bapa di surga. Tidak seperti orang kaya yang egois dan membinasakan dirinya sendiri. 5 Orang kaya dalam Lukas 16 tersebut tidak mengerti bahwa Lazarus diutus Tuhan untuk menyelamatkan dirinya. Memang itu masalah, tetapi masalah yang membawa berkat; seharusnya tidak dipahami sebagai problem yang menyakitkan. Bagi orang percaya yang benar, problem mau pun masalah adalah berkat Tuhan. Problem adalah berkat untuk kedewasaan rohani sedangkan masalah adalah berkat untuk upah dalam kekekalan. Justru ketenangan orang percaya ketika ia harus bergumul dengan problem. Problem yang dialami seseorang menunjukkan bahwa hal itu berarti Tuhan masih memperhatikannya, sebab dengan memberi problem guna penggarapan untuk pedewasaan menunjukkan bahwa Tuhan menunjuknya sebagai umat pilihan yang khusus. Firman Tuhan berkata bahwa hanya anak-anak yang sah yang dihajar oleh orang tuanya. Kalau Tuhan tidak mendidik seseorang berarti ia bukan anak yang sah.6 Selanjutnya ketenangan adalah ketika Tuhan mengirimkan Lazarus-Lazarus untuk ditolong. Memang hal ini akan menganggu kita, sebab kita harus membagi roti dan anggur kita. Tetapi masalah yang dihadirkan Tuhan dalam hidup ini merupakan indikasi atau petunjuk bahwa Tuhan memercayai kita untuk menderita bersama dengan Tuhan Yesus.7 Harus dimengerti bahwa tidak akan ada mahkota tanpa salib.

1) 1Korintus 13:1; 2) Matius 25:34-40 ; 3) Matius5:48 ; 4) Roma 8:28 ; 5) Lukas 16:19-31; 6) Ibrani 12:5-9 ; 7) Roma 8:17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.