27 November 2014: Menjadi Anak Kekasih

Tidak ada keberhasilan yang lebih besar selain menjadi kekasih Tuhan. Kita harus menyadari bahwa menjadi kekasih Tuhan adalah sesuatu yang sangat mulia. Pelayanan pekerjaan Tuhan harus mengarahkan jemaat untuk ini, bukan mengarahkan jemaat kepada kenyamanan hidup untuk memiliki dunia dengan segala kesenangannya. Oleh sebab itu ukuran keberhasilan bukan pada sukses studi, karir, rumah tangga dan lain sebagainya, tetapi menjadi kekasih Tuhan. Menjadi masalah yang mengerikan kalau seseorang gagal menjadi kekasih Tuhan. Untuk ini patut diperdengarkan pernyataan Tuhan: Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?

Kedatangan Yang Mulia Tuhan Yesus Kristus merupakan kesempatan dimana manusia dapat menemukan Sang Khalik Pencipta langit dan bumi dalam persekutuan yang ideal yaitu menjadi kekasih Tuhan. Dalam Yohanes 14:6 terdapat kata erchomai (datang) bukan hanya menunjuk bahwa seseorang boleh masuk Surga tetapi memiliki persekutuan yang khusus dengan Bapa Surgawi. Kalimat “datang kepada Bapa” hendaknya tidak dimengerti secara dangkal. Datang kepada Bapa berarti sebuah kedekatan yang khusus dengan Bapa, sebab kita menjadi anak-anak-Nya yang kekasih. Bagi orang tua, anak-anak adalah kekasihnya. Kalau tidak bertemu anak-anak dalam kurun waktu tertentu ada perasaan kangen atau rindu kepada anak-anaknya. Bapa di Surga juga memiliki kasih yang dalam seperti itu, bahkan jauh lebih dalam.

Hidup ini merupakan kesempatan yang luar biasa, satu kali untuk selamanya guna menemukan kehidupan untuk menjadi kekasih Tuhan. Bila kita menolak hal ini maka tidak ada kesempatan lagi. Firman Tuhan mengatakan: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari surga? Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga”. Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibr. 12:25-29).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.