27. Meninggikan Tuhan

DALAM SEBUAH KEBAKTIAN kita sering menyanyikan lagu-lagu yang syairnya penuh dengan kepada sanjungan kepada Tuhan dan meninggikan Tuhan, dan kita mengakui bahwa Tuhan adalah pribadi yang layak disanjung. Hal meninggikan Tuhan atau yang sama dengan menyanjung Tuhan dalam hidup orang Kristen bukan suatu hal yang asing. Sudah akrab bagi mereka yang rajin ke gereja. Tahukah saudara apa dan bagaimana sebenarnya meninggikan dan menyanjung Tuhan itu? Meninggikan dan menyanjung Tuhan sesungguhnya tidak cukup dengan syair dan nyanyian. Tidak cukup hanya dengan perkataan buah bibir di gereja. Meninggikan dan menyanjung Tuhan sesungguhnya adalah sikap hati dan tindakan yang dinyatakan dalam hidup setiap hari. Jadi, adalah bodoh kalau seseorang merasa sudah meninggikan atau menyanjung Tuhan hanya karena pergi ke gereja menyanyikan lagu-lagu gereja yang syairnya memuat kata-kata dan kalimat yang meninggikan Tuhan atau menyanjung nama Tuhan.

Betapa bersyukurnya kita memiliki Alkitab ini. Di dalamnya dapat kita peroleh pengalaman-pengalaman tokoh-tokoh iman yang dapat kita teladani dalam meninggikan dan menyanjung Tuhan. Keteladanan hidup mereka sangat berguna bagi kehidupan kita masa kini. Walaupun persolan hidup yang mereka alami tidak sama persis seperti yang kita kita alami, tetapi prinsip-prinsip pemecahannya tetap sama. Pada kesempatan ini kita akan melihat beberapa pelajaran rohani dari kehidupan tokoh-tokoh iman dalam Alkitab yang sangat indah bagi kita. Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam hidup ini, meninggikan nama Tuhan dan menyanjung-Nya. Dalam kehidupan secara umum pun mereka sukses, seperti Daud misalnya, dari seorang anak gembala menjadi raja, penguasa tertinggi.

Apa dan bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan meninggikan dan menyanjung Tuhan itu? Meninggikan artinya menganggap mulia, agung dan berharga. Oleh karena sesuatu atau seseorang tersebut dinilai atau dianggap bernilai, agung dan mulia maka sesuatu atau seseorang itu disanjung. Menyanjung artinya melontarkan kata yang memuat pujian kepada sesuatu atau seseorang sebagai pengakuan mengenai keberadaan sesuatu atau seseorang tersebut. Dalam penyanjungan terdapat unsur menghormati dan membanggakan yang disanjung. Jadi, kalau meninggikan dan menyanjung Tuhan artinya menyatakan keberadaan Allah yang agung, mulia dan menyatakan sebagai yang paling bernilai tinggi dalam kehidupan ini. Sikap seperti ini memang harus dimiliki setiap anak-anak Tuhan. Dengan sikap ini seorang anak Tuhan memuliakan Tuhan. Sesungguhnya meninggikan dan menyanjung Tuhan adalah tindakan memuliakan Tuhan.

Meninggikan dan menyanjung Tuhan adalah sikap tidak memperhitungkan sesuatu atau seseorang sebagai andalan. Ketika seseorang mengandalkan sesuatu sebagai yang dapat menopang hidupnya, maka otomatis akan menghargai atau meninggikannya. Kita harus menjadikan Tuhan satu-satunya andalan kita. Dalam 1Samuel 30:6, dikisahkan Daud yang berada dalam keadaan terjepit masalah yang sangat berat. Ia tidak memiliki apa-apa lagi, keluarganya dan keluarga orang-orang yang bersama-sama dengan Daud dalam pelarian ditawan bangsa Amalek. Rakyat dan pengawal-pengawalnya sendiri hendak memberontak kepadanya. Sekarang ia menjadi raja yang tidak memiliki keluarga, tidak memiliki mahkota, tidak memiliki takhta, tidak memiliki harta dan rakyat. Pada saat itulah Daud menguatkan percayanya kepada Tuhan. Ini sikap meninggikan dan menyanjung Tuhan, yaitu ketika ia mengandalkan Tuhan. Ia tidak memperhitungkan sesuatu atau seseorang sebagai andalannya. Ia hanya mengandalkan Allah saja. Itulah sebabnya dalam Mazmurnya ia berkata: Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.1 Peristiwa Sadrach dan kawan-kawan juga menujukkan bahwa mereka menjadikan Allah satu-satu andalan mereka dan menghargai Allah di atas segala perkara.2

1) Mazmur 121 ; 2) Daniel 3:16-18

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.